Saturday, April 11, 2026
Saturday, April 11, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan: Potret Diri yang Jujur VS Generalisasi yang Prematur

Must Read

Inspirasi Kehidupan: Potret Diri yang Jujur VS Generalisasi yang Prematur

(Catatan untuk Tulisan Ustadz Nurbani Yusuf⁩ di Akun FB: https://www.facebook.com/search/top?q=nurbani%20yusuf)

Oleh Farid B Siswantoro

(nDalem Ontosenan Yogyakarta)

Tulisan Ustadz Nurbani Yusuf (NY) itu menarik karena mencoba melakukan self-criticism terhadap fenomena keberagamaan di internal Muhammadiyah.

Pendekatan fenomenologis (memahami makna di balik tindakan) yang diusung adalah langkah akademis yang baik. Penulis NY mencoba menggali penyebab yang menurut pandangannya terjadi disonansi kognitif di kalangan warga Muhammadiyah: di satu sisi alergi terhadap kitab lokal/klasik (seperti Diba‘), di sisi lain reseptif terhadap karya orientalis (seperti Karen Armstrong).

Itu memang pandangan Ustadz NY. Namun, dari perspektif lain tampak terdapat beberapa kelemahan mendasar dalam kerangka berpikir, asumsi, dan metodologi yang diajukan — yang akibatnya adalah kekeliruan yang (cukup) fatal. Kritik yang diusahakan konstruktif saya sampaikan di sini:

Kesalahan dalam Mendefinisikan “Sumber Rujukan” (Problem Epistemologi)

Tulisan NY itu menyamakan Kitab Maulid (Diba’, Barzanji) dengan Buku Biografi Nabi (Karya Armstrong, Lings, Watt). Ini adalah category error (kekeliruan kategori).

Dari perspektif Islam Berkemajuan, warga Muhammadiyah —setahu saya yang beberapa puluh tahun bergaul dan hidup bersama warga Muhammadiyah di Yogyakarta— tidak alergi terhadap biografi Nabi. Justru, kajian Sirah Nabawiyah adalah bagian penting dari (semacam) kurikulum di sekolah, perguruan, pengajian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

“Yang tampak di sini menjadi persoalan adalah fungsi dan konten dari kitab maulid”

Kitab Maulid (Diba’, dll) : Bukanlah kitab sejarah murni. Ia adalah karya sastra religi yang sarat dengan pujian berlebihan (ghuluw), narasi-narasi yang tidak selalu shahih dari sisi sanad (misalnya kisah cahaya sebelum penciptaan alam), dan dibaca dalam ritual ibadah dengan irama tertentu.

Meminjam idiom Katolik, Diba’ & Barzanji —juga shalawatan tahlil— adalah kitab liturgi. Sebagai litutrgi, anda harus menerima saja, tertutup pintu untuk mengoreksi dan mengkritisinya.

Nah, di situlah perbedaan dengan buku orientalis yang disebutkan itu. Buku karya Armstrong, Lings, Watt, Schimmel adalah produk akademis (meskipun dengan biasnya masing-masing) tetap bisa dikritisi secara ilmiah. Anda boleh sangat merekomendasikan sirah karya Haikal atau Mubarakfury, namun orang tetap berhak mengkritiknya.

Kritik Konstruktif

Penulis perlu membedakan antara literatur sejarah dan literatur liturgi/ibadah. Warga Muhammadiyah (yang dididik dengan semangat tajdid) akan menolak kitab maulid jika dibaca dalam konteks ibadah mahdhah atau diyakini memiliki keutamaan spiritual khusus di luar Al-Qur’an dan Hadis Shahih. Warga Persyarikatan juga tahu bahwa bagi komunitas sebelah, kitab-kitab maulid itu dimuliakan nyaris sakral.

Namun, mereka akan menggunakan buku orientalis sebagai bahan kajian kritis, bukan sebagai kitab yang dibaca untuk tabarrukan (mencari berkah). Jika diskusi ini ingin objektif, NY pertama kali harus membandingkan apel dengan apel, misalnya: “Kitab Sirah Ibnu Hisyam” vs ” Sirah karya Martin Lings” (yang notabene adalah Muslim convert yang menulis dengan gaya sastra). NY perlu tahu tentang perbandingan apel dengan apel, yang berbeda dengan apel dengan maja.

Menyederhanakan Alasan Penolakan

Pernyataan NY yang menyebut alergi dan langsung vonis khurafat, tahayul, syirik adalah generalisasi yang tidak fair, terburu-buru dan misleading. Di sini terjadi over simplifikasi. Dalam tradisi Islam Berkemajuan, penolakan terhadap konten tertentu selalu didasari oleh metode tarjih, yang dalam istilah lain: dilakukan analisis dalil.

Sanggahan: Muhammadiyah tidak menolak cinta kepada Nabi. Justru, mereka mendorong cinta yang rasional dan proporsional, dengan menjadikan Sunnah sebagai teladan konkret, bukan hanya ratapan atau pujian puitis di atas kertas.

Analisis: Jika ada warga Muhammadiyah yang menolak kitab Diba’, itu karena adanya konten yang bertentangan dengan akidah, misalnya:

  • Penggambaran Nabi sebagai cahaya yang qadim.
  • Kisah-kisah Isra’ Mi’raj yang tidak masuk akal dan tidak shahih.
  • Ritual berdiri (qiyam) saat pembacaan maulid yang dianggap sebagai bentuk pengagungan berlebihan.

“Maka, penolakan ini adalah bentuk purifikasi (pemurnian) agar umat tidak terjebak pada mitos, bukan karena kebodohan atau fanatisme buta”

Ironi “Menyukai” Orientalis: Antara Keingintahuan Intelektual dan Otoritas Keilmuan

Pertanyaan nomor 2 dalam tulisan (Kenapa lebih mengutamakan buku karya orang barat?) — meskipun itu pertanyaan insinuatif atau penuh syak-wasangka, namun bisa dijawab dengan mudah dari perspektif Islam Berkemajuan (yang saya pahami):

Pertama, Muhammadiyah sangat menjunjung tinggi prinsip pintu ijtihad terbuka dan menghargai ilmu pengetahuan dari mana pun datangnya. Nabi sendiri bersabda, “Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina.”

Kedua, Mengapa membaca orientalis? Bukan karena lebih suka, tetapi karena karya orientalis sering menawarkan metodologi sejarah (historiografi) modern, analisis sosial-politik, dan pendekatan komparatif yang mungkin tidak ditemukan dalam khazanah klasik yang hanya berupa hagiografi (cerita pemujaan). Karya sirah baru itu adalah bentuk pengayaan intelektual.

Ketiga, Sikap Kritis: Islam Berkemajuan tetap bersikap kritis terhadap orientalis. Buku Watt, Armstrong — atau Annemarie Schimmel atau Jeffrey Lang— dibaca untuk diketahui kerangka berpikirnya. Lalu jika perlu dibantah atau dilengkapi dengan perspektif keislaman yang lebih otentik.

“Ini berbeda dengan memperlakukan kitab Diba’ yang sejak awal memang ditujukan untuk dibaca sebagai amalan, bukan untuk dikritisi metodologinya”

Kritik Terhadap Fokus Penelitian

Penelitian selama tiga semester dengan pendekatan fenomenologi untuk pertanyaan di atas berisiko menghasilkan jawaban yang sudah bisa ditebak. Mengapa?

Karena pertanyaannya sangat cenderung didasarkan pada straw man fallacy (mendirikan orang-orangan sawah untuk kemudian dipukul sendiri).

  • Argumen: Penulis seolah berasumsi bahwa sikap warga Muhammadiyah terhadap dua jenis literatur ini tidak logis dan perlu dijelaskan maknanya.
  • Sanggahan: Sebenarnya, pilihan warga Muhammadiyah sangat logis:

[1] Menolak kitab Diba’ karena mengandung unsur ghuluw (ekstrem dalam memuji) yang dilarang oleh Nabi sendiri.

[2] Membaca karya orientalis untuk memahami bagaimana dunia luar memandang Islam, sebagai bekal dakwah dan dialog lintas iman.

Kesimpulan dan Saran untuk Penulis

Tulisan itu memiliki niat baik untuk memahami perilaku keberagamaan secara akademis. Namun, dari sudut pandang Islam Berkemajuan, analisisnya perlu diarahkan ulang agar lebih tajam dan adil:

Pertama, Jangan Samakan Fungsinya: Bedakan antara kitab untuk ibadah dan tabarruk (maulid) dengan buku untuk studi dan kajian (orientalis). Sikap terhadap keduanya pasti berbeda.

Kedua, Gali Dasar Teologisnya: Alasan penolakan kitab maulid bukan karena tidak suka budaya, tetapi karena landasan teologis yang kuat (QS. Al-Kahfi: 110, larangan berlebihan dalam memuji).

Ketiga, Akui Kontribusi Internal: Jangan hanya membandingkan dengan orientalis. Bandingkan juga dengan karya ulama Muhammadiyah sendiri atau ulama modernis lainnya (seperti Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Qutb, atau Yusuf Al-Qaradhawi) yang menulis sirah dengan pendekatan tafsir tematik dan analisis sosial, yang jauh lebih kaya daripada sekadar pembacaan maulid. Tentu saja penjelajahan bisa dilakukan lebih luas, misalnya sampai ke Haikal, Mubarakfury atau Jeffrey Lang.

Saran Revisi: Alih-alih bertanya “Kenapa lebih suka orientalis?”, penelitian yang lebih konstruktif dalam kerangka Islam Berkemajuan adalah: “Bagaimana warga Muhammadiyah mengkonstruksi ‘Cinta Nabi’ yang proporsional antara penghayatan spiritual (tasawuf modern) dan implementasi sosial (dakwah amar ma’ruf nahi munkar)?” Wallahu alam.

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Antusiasme Siswa Kelas 9 SMP Muhammadiyah 1 Surabaya Ikuti TKA Berbasis Komputer

Surabaya, liputanmu - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) kelas 9 di SMP Muhammadiyah 1 Surabaya berlangsung pada 6–9 April...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img