Inspirasi Kehidupan : Penerus Semangat Salman Alfarizi Menolak Tunduk
Oleh Ustadz Ir. Luman
(Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
“Sekiranya iman itu ter gantung di bintang Tsurayya (bintang yang sangat jauh/tinggi), niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perang Iran-Israel (As) sudah memasuki hari ke-32. Satu bulan lebih, hari-hari yang seharusnya menjadi penanda kelelahan, namun masih menegangkan dan belum akan berhenti. Kita semua, kini justru menjadi saksi bisu betapa harga diri bertukar tempat dengan begitu murah.
Trump, dengan retorika “penghancuran total” dan klaim pergantian rezim Iran segera tiba, mungkin sedang lupa, bahwa Iran bukanlah negeri yang dibangun kemarin sore. Menurut Pak Luhut, Iran adalah bangsa Arya, mewarisi peradaban kuno yang luhur dan memiliki keteguhan semangat kolektif dalam mempertahankan kedaulatan serta identitas bangsanya.
Iran University of Science and Technology memang kemarin telah dihancurkan, termasuk sistem radar pertahanan udara S-300 dan Bavar-373 markas IRGC, serta 30 apartemen di Teheran dilaporkan luluh lantak, namun apa yang tersisa dari sebuah bangsa yang memilih menolak tunduk?
Iran langsung meresponnya dengan menghancurkan America University di Sulaimaniyah Irak. Prinsipnya masih sama: nyawa dengan nyawa. Kali ini kampus dengan kampus. Selain itu, pagi ini, aroma mesiu di perbatasan Israel-Lebanon bercampur dengan bau “harum” kopi yang tak sempat diminum habis oleh 20 tentara Israel. Mereka tewas, disusul 30 lainnya yang merintih luka.
Hizbullah dan Iran seolah mengirim pesan tajam, mematahkan narasi “keunggulan mutlak” yang selama ini digaungkan. Lihatlah hamparan dan tempat-tempat strategis Israel hari ini, tujuh puluh persen balistik Iran bisa menembusnya, membuat sistem pertahanan yang dulu angkuh kini tergagap dan terdegradasi. Salah satunya adalah kilang minyak terbesar di Haefa.
Data Haaretz tak bisa bohong; ini bukan lagi sekadar serangan, ini adalah hujan api yang meruntuhkan kepercayaan diri sebuah negara yang merasa tak tersentuh. Akibatnya, mental para menteri Israel down dan nyalinya ciut. Mereka semua rapat di bunker. Karena ancaman balistik Iran. Tak terkecuali, Menhan Katz dan Menkopolhukam Ben Gvir yang berhari-hari meringkuk di bunker.
Sementara itu, dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera (30/03), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuntut agar Iran segera menghentikan seluruh produksi pesawat nirawak (drone) dan rudal yang telah digunakan dalam serangan-serangan belakangan ini. Sebuah tuntutan yang aneh di tengah kecamuk perang dan invasi. Dan, yang amat mengesankan, drone-drone berbiaya murah itu banyak dibuat oleh tangan pelajar dan mahasiswa Iran.
Selain itu, gertakan-gertakan Trump makin tak dianggap—mulai ultimatum 2 hari sampai mundur 10 hari, dengan mengancam akan menghancurkan total Iran jika tak mau berunding— nyatanya Iran tetap kekeh dan bergeming. Mereka tak butuh meja perundingan yang disiapkan Sang Penindas.
Bagi Teheran, negosiasi hanyalah basa-basi, kecuali syarat-syarat yang diajukan mereka dipenuhi. Dua diantaranya adalah, supaya AS menghapus selamanya pangkalan militernya di negara Arab dan harga mati buat kemerdekaan bangsa Palestina yang lama ditindas oleh Israel.
Perang ini adalah panggung teater, kegigihan Iran lah yang membuat Trump kehabisan cara dan kehabisan “akal sehat”. Sebab, drama sesungguhnya ada di perairan. Selat Hormuz, urat nadi dunia itu, masih dalam genggaman Iran. Ini adalah aib terbesar, sebuah tamparan keras di muka Trump dan Netanyahu.
Bayangkan, dua raksasa angkatan laut AS, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald Ford, terpaksa angkat kaki. Mereka kabur, bukan karena musuh yang tak terlihat, tapi karena serangan balistik yang presisi. Kapal-kapal kebanggaan itu kini menepi ke Kroasia, menyembunyikan malu.
Fakta pahit ini membuktikan: di depan bangsa warisan Persia, klaim bangsa adidaya tak begitu berdaya apa-apa. AS seperti goyah dan gentar. Rencana menguasai Pulau Kharg, dengan menerjunkan pasukan daratnya, di tempat jantung minyak Iran, hanyalah rencana di atas meja yang tak kunjung terealisasi.
Trump menahan diri, takut kalkulasi korban jiwa akan menjadi bumerang yang menghancurkan karier politiknya. Apalagi hari-hari ini gelombang demo masyarakat As makin besar dan memenuhi jalan utama; meminta Trump mengakhiri perang, serta membiarkan Iran mengurus kedaulatannya sendiri. Di sini kita belajar, keberanian seringkali bukan tentang seberapa canggih senjata, tapi seberapa dalam doktrin untuk melawan, demi kehormatan imam dan bangsanya.
Kini, kuncinya bergeser ke Timur. Dan, China adalah pilihan Iran, bukan Oman atau Qatar, menjadi perantara yang dipercaya. Iran menatap Beijing, tempat di mana diplomasi perang dirancang lebih elegan, lebih mematikan. Rusia pun hadir, tak hanya dengan kata-kata, tapi lewat teknologi drone melintasi Laut Kaspia, memastikan rudal-rudal Iran tetap terbang.
Lima puluh tahun diembargo, diisolasi, namun Iran tetap tegap. Ini adalah prestasi tak terbantahkan. Perang ini adalah perang eksistensial. Iran tidak peduli dengan bisnis global di Hormuz yang tersendat. Bagi mereka, hidup tegak atau mati terhormat.
Jika Iran bertahan—dan tampaknya mereka akan bertahan—Timur Tengah yang kita kenal hari ini mungkin akan berganti cerita. Hegemoni AS dan Israel sedang menukik tajam.
“Kehebatan militer AS yang sering kita baca dalam cerita fiksi dan film-film hero seperti Rambo, kini sedang dipertaruhkan harga dirinya di mata dunia. Dan, kita semua sedang menyaksikan itu. Wallahu’alam”














