Surabaya, liputanmu – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, mengucapkan selamat Milad ke-63 Tapak Suci Putera Muhammadiyah; 63 tahun menempa pendekar, menjaga marwah, dan mengabdi untuk Persyarikatan, Bangsa, dan Umat. Jum’at (31/07/2026).
Bagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo, Tapak Suci bukan sekadar perguruan bela diri. Tapak Suci adalah sekolah karakter. Tempat lahirnya kader yang kokoh imannya, santun akhlaknya, tajam pikirannya, serta tangguh menghadapi tantangan zaman.
“Hari ini dunia tidak kekurangan orang kuat. Dunia justru kekurangan orang yang mampu mengendalikan kekuatannya dengan iman dan akhlak.” Tutur Ustadz Ir. Lukman, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo Surabaya.
Menurutnya, Tapak Suci hadir bukan untuk melahirkan petarung yang gemar mencari lawan, tetapi melahirkan pendekar yang berdiri di barisan dakwah, menjaga persaudaraan, membela yang lemah, serta menjadi teladan dalam kehidupan.
“Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo meyakini, selama Tapak Suci terus menjaga ruh Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, selama itu pula akan lahir kader-kader yang tidak hanya piawai memainkan jurus, tetapi juga piawai membangun sekolah, memakmurkan masjid, menggerakkan ranting, menguatkan persyarikatan, dan mencerahkan masyarakat.” Ungkap Ustadz Lukman, yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Syuhada Ramah Center (SRC) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya ini.
Filosofi Bela Diri Tapak Suci Putera Muhammadiyah
Pertama, Jurus tanpa akhlak adalah kesombongan.
Kedua, Keberanian tanpa iman adalah kecerobohan.
Ketiga, Kemenangan terbesar bukan ketika lawan tersungkur, melainkan ketika hawa nafsu berhasil ditaklukkan.
“Selamat Milad ke-63 Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Teruslah menjadi kawah candradimuka para pendekar berkemajuan.” Katanya.
Ustadz Lukman juga menegaskan bahwa keberadaannya untuk menjaga kehormatan Persyarikatan Muhammadiyah, mengokohkan dakwah Islam, dan menggetarkan dunia dengan keteladanan, bukan dengan kesombongan.
“Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah. Berani karena benar, tangguh karena iman, jaya karena akhlak.” Pungkasnya. (Taufikhi).














