Tuesday, August 11, 2026
Tuesday, August 11, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Bukan Hanya Wahabi, Semua Umat Islam Anti-TBC!

Must Read

Bukan Hanya Wahabi, Semua Umat Islam Anti-TBC!

Oleh KH. Nurbani Yusuf

(Komunitas Padhang Makhsyar)

Yang anti-TBC (Tahayul, Bid’ah, Churafat) bukan hanya Muhammadiyah dan Wahabi; Nahdlatul Ulama (NU) pun sesungguhnya anti-TBC.

Hal yang membedakannya adalah ta’rif (definisi) dan bentuk aplikasinya. Definisi TBC yang dipahami masing-masing kelompok berbeda, lantas di situlah titik selisihnya bermula. Jadi, hal ini tentu bukan monopoli kalangan Salafi-Wahabi saja. Semua sepakat untuk melawan dan bersikap anti-TBC.

Pertanyaannya:

  1.  Apakah qunut pada salat subuh itu bid’ah?
  2. Apakah bersalaman dan zikir jahr ba’da salat itu bid’ah?
  3. Apakah ziarah kubur itu syirik?
  4. Apakah memasang keris di pinggang itu tahayul?
  5. Apakah pengajian rutin tiap minggu pagi itu tasyabbuh?
  6. Apakah tahlilan dan yasinan kematian itu bid’ah?
  7. Apakah mencium tangan ulama itu bentuk kultus?
  8. Apakah bertawasul dengan salawat itu syirik?
  9. Apakah menggantungkan Ayat Kursi di atas pintu rumah itu syirik?
  10. Apakah kisah karamah para wali dan orang saleh itu tahayul?

“Semuanya sangat bergantung pada ta’rif atau definisi yang digunakan”

Dinamika dan Paradoks di Lapangan

Sisi menariknya adalah: NU sering kali dituduh sebagai “produsen” TBC.

Kemudian, Muhammadiyah dan Salafi-Wahabi memposisikan diri sebagai “pembasmi” TBC, tentu dengan definisi yang mereka pahami sendiri. Paradoks pun terjadi—beberapa amalan tradisi NU di-“TBC”-kan, lalu dibasmi dan diberantas. Dari sinilah konflik dan perselisihan mulai berkobar, di mana NU mengambil posisi defensif untuk mempertahankan, sementara Muhammadiyah dan Wahabi mengambil posisi ofensif untuk menyerang.

Sebagai perbandingan historis, sebagian kalangan Kejawen dulunya berpendapat bahwa cerita Isra Mikraj adalah churafat. Bahkan, ketika pertama kali mendengarnya, sebagian sahabat sempat goyah dan kembali murtad.

Para ulama pun dahulu bekerja keras setengah mati meyakinkan umat: apakah Mikraj itu dengan jasad dan roh, atau rohnya saja, bahkan ada yang berpendapat hanya dalam mimpi.

Adalah Sayidina Abu Bakar r.a. yang pertama kali percaya tanpa ragu, sehingga beliau digelari Ash-Shiddiq. Seandainya kaum Wahabi sudah ada pada masa peristiwa Mikraj, mungkin saja mereka termasuk kelompok yang tidak percaya, karena Mikraj dianggap melawan akal dan logika, serta dicap sebagai churafat atau kisah mistis.

Tentu, analogi ini menggelitik: bukankah berjalan menuju tempat salat itu ibadah, dan berjalan menuju Baitullah di Makkah juga ibadah? Kenapa sekarang tidak berjalan kaki atau naik unta serta kuda saja seperti yang dicontohkan para salafus saleh?

Pangkal Persoalan: Perbedaan Definisi

Pada dasarnya, NU juga anti-bid’ah. Hanya saja, ta’rif bid’ah yang dipahami oleh NU dan Muhammadiyah berbeda. Begitu pula dengan ta’rif bid’ah yang dipahami oleh kaum Wahabi. Di sinilah pangkal segala persoalan.

Kaum Wahabi kerap mencap NU sebagai kumpulan pelaku bid’ah, sementara sebagian kalangan Wahabi bahkan melabeli Muhammadiyah sebagai ahli syubhat. Perbedaan yang meluas dalam segala disiplin keagamaan ini pada akhirnya selalu berawal dari perbedaan mendefinisikan sesuatu.

Bahkan, ta’rif atau definisi tentang bid’ah itu sendiri mengalami banyak reduksi dan distorsi. Perdebatan berkepanjangan yang tak berkesudahan tentang bid’ah hasanah dan bid’ah dalalah, serta sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah, semuanya bermula dari penetapan definisi yang tidak sama, sehingga hasilnya pun sudah pasti berbeda.

Salafi berpendapat: Bahwa setiap perkara yang tidak ada dalil dan contoh khususnya dari Nabi ﷺ adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu tersesat serta masuk neraka.

Sebagian besar warga NU berpendapat: Bahwa perkara yang tidak didalilkan dan tidak dikerjakan secara khusus oleh Nabi ﷺ, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariat, hukumnya adalah mubah (boleh).

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Apakah Majelis Tarjih Adalah Anti-Tesis Madzhab Syafii?

Apakah Majelis Tarjih Adalah Anti-Tesis Madzhab Syafii? Oleh KH. Nurbani Yusuf  (Komunitas Padhang Makhsyar) Ada sebuah rumor yang kerap beredar: banyak produk...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img