Inspirasi Kehidupan: Jangan Hanya Memikirkan Apa yang Masuk ke Perut
Oleh Ustadz drh. Zainul Muslimin
(Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur)
“Kadang yang membuat makanan menjadi tidak baik bukan karena makanannya, tetapi karena cara kita memperlakukannya”
Ada dua kata sederhana yang sering menjadi pengingat dari dokter Agus Ali Fauzi: “berlebihan dan sendirian.”
Berlebihan membuat sesuatu yang halal bisa berubah menjadi mudarat. Sementara sendirian membuat nikmat yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan hati, justru berhenti pada diri sendiri. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya :“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Maka makan bukan sekadar urusan kenyang. Ada adab, ada kesehatan, ada kepedulian, dan ada nilai ibadah ketika nikmat itu tidak hanya dinikmati sendiri.
Lihatlah sederhana saja, satu meja beberapa orang. Makanan yang mungkin tidak mewah, tetapi ketika disantap bersama, ada silaturahim, tawa, perhatian, dan rasa syukur yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Sebab terkadang yang membuat makanan terasa nikmat bukan lauknya, tetapi karena ada orang lain yang ikut merasakan nikmat itu. Kita sering sibuk mencari makanan yang enak, tetapi lupa mencari cara makan yang baik.
Kita mengejar kenyang, tetapi lupa berbagi. Kita takut kekurangan, tetapi tidak sadar bahwa berbagi justru melapangkan hati. Jangan biarkan makanan hanya berhenti di perut. Biarkan sebagian menjadi energi untuk berbuat baik, dan sebagian lagi menjadi jalan untuk mendekat kepada sesama.
Karena hidup bukan tentang seberapa banyak yang mampu kita nikmati, tetapi seberapa banyak nikmat yang mampu kita bagikan. Bismillah, makan secukupnya, bersyukur sebanyak-banyaknya, dan jangan lupa berbagi.














