Inspirasi Kehidupan: Sawang-sinawang, Jangan Terlalu Lama Iri pada Hidup Orang Lain
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
“Gunung tampak indah dari kejauhan namun jika didekati akan banyak bebatuan dan jurang terjal didalamnya”
Kadang kita melihat orang lain lalu berkata dalam hati: “Enak ya hidupnya…”
Melihat rumahnya lebih besar, kita merasa hidupnya lebih bahagia. Melihat penghasilannya lebih banyak, kita merasa hidupnya lebih mudah. Melihat kariernya lebih tinggi, kita merasa hidupnya lebih berhasil.
Padahal, kita hanya melihat apa yang tampak, tetapi tidak tahu berapa banyak air mata yang ia sembunyikan di balik senyumnya, tidak tahu berapa berat tanggung jawab yang ia pikul.
Kita juga tidak tahu berapa banyak doa yang ia panjatkan sebelum sampai pada titik yang kita lihat hari ini. Allah SWT mengingatkan:
وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۥ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّرِجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّآ ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّآ ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۥٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا
Artinya :“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32).
Menariknya, Allah SWT tidak mengatakan semua orang harus mendapatkan bagian yang sama. Karena memang tidak sama.
Ada yang diberi banyak harta, tetapi diuji dengan kesehatan, ada yang diberi jabatan, tetapi diuji dengan tanggung jawab. Ada juga yang diberi keluarga besar, tetapi diuji dengan berbagai persoalan.
Ada yang hidup sederhana, tetapi Allah berikan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Setiap orang punya paket ujiannya masing-masing. Karena itu, jangan terlalu cepat iri kepada kehidupan orang lain.
Sebab kita sering membandingkan “belakang layar kehidupan kita” dengan “etalase kehidupan mereka.” Dan Allah SWT kembali mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini sering membuat manusia tertipu:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ
Artinya :“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu…” (QS. Al-Hadid: 20).
Maka hati-hati, jangan sampai kita sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain, sampai lupa menghitung nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita.
Rumahnya mungkin lebih besar, tetapi belum tentu hatinya lebih tenang. Uangnya mungkin lebih banyak, tetapi belum tentu tidurnya lebih nyenyak.
Jabatannya mungkin lebih tinggi, tetapi belum tentu bebannya lebih ringan. Dan hidup kita yang terlihat biasa saja, bisa jadi justru merupakan kehidupan yang sedang diimpikan orang lain.
Itulah sawang-sinawang. Kita melihat kehidupan orang lain dari kejauhan, sementara kehidupan sendiri kita rasakan dari jarak paling dekat. Maka jangan habiskan umur untuk iri pada halaman kehidupan orang lain.
Rawat halamanmu sendiri, siram dengan syukur, pupuk dengan ikhtiar, bersihkan dari keluhan, dan serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sebab Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, bukan terus-menerus melihat kepada yang berada di atas kita.
Agar kita tidak meremehkan nikmat Allah yang sudah ada pada diri kita. Bukan berarti kita dilarang punya cita-cita. Boleh ingin lebih kaya, ingin lebih sukses, ingin punya rumah lebih baik. Boleh juga ingin kehidupan yang lebih nyaman, tetapi jangan sampai keinginan untuk memiliki berubah menjadi ketidakmampuan mensyukuri.
Karena ada perbedaan besar antara: “Ya Allah, aku ingin seperti dia karena ingin menjadi lebih baik” dengan “Ya Allah, mengapa dia mendapatkan itu sementara aku tidak?”
Yang pertama bisa menjadi motivasi, sedangkan yang kedua bisa menjadi racun hati. Jadi, kalau hari ini rezekimu belum sebesar orang lain, jangan minder.
Kalau perjalananmu lebih lambat, jangan menyerah. Kalau hidupmu masih sederhana, jangan merasa rendah.
“Yang penting bukan siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang tetap berjalan di jalan yang Allah ridai”
Karena pada akhirnya, kita tidak akan ditanya mengapa hidup kita tidak seperti kehidupan orang lain. Kita akan ditanya apa yang kita lakukan dengan kehidupan yang Allah titipkan kepada kita.
Sawang-sinawang, lur…jangan terlalu lama iri dengan hidup orang lain. Bisa jadi, ada orang lain yang justru sedang iri dengan hidupmu. Dan mungkin…yang hari ini kita anggap “hidup biasa”, ternyata adalah nikmat luar biasa yang kelak paling kita rindukan ketika Allah mengambilnya kembali.
Maka bersyukurlah sebelum nikmat berubah menjadi kenangan: Alhamdulillah ‘ala kulli haal.














