Wednesday, September 30, 2026
Wednesday, September 30, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan: Bermuhammadiyah, Identitas atau Kesadaran?

Must Read

Inspirasi Kehidupan: Bermuhammadiyah, Identitas atau Kesadaran?

Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.

(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)

“Ada Jalan NINJA berMuhammadiyah, pernah bertanya; “Kalau saya tidak lahir dari keluarga Muhammadiyah, apakah saya tetap akan memilih Muhammadiyah?”

Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya bisa membuat kita bercermin. Kita punya NBM, aktif di pengajian, bekerja di amal usaha, dan bangga mengatakan: “Saya Muhammadiyah.”

Tetapi, apakah kita memahami mengapa kita Muhammadiyah? Sebab berMuhammadiyah bukan sekadar tahu apa yang diputuskan, tetapi memahami mengapa keputusan itu lahir.

Bukan hanya bertanya: “Muhammadiyah pakai pendapat apa?”

Tetapi berani bertanya: “Apa dalilnya? Bagaimana manhaj tarjihnya? Mengapa pendapat itu dipilih?”

Di sinilah kita naik kelas, dari sekadar mengikuti, menjadi memahami. Karena ketika pendapat Muhammadiyah sesuai dengan kebiasaan kita, mudah untuk berkata: “Saya Muhammadiyah.”

“Tetapi ketika keputusan Persyarikatan berbeda dengan kebiasaan kita, di situlah kesadaran manhaj diuji”

Jangan sampai kita bukan mengikuti manhaj Muhammadiyah, tetapi hanya mengikuti selera yang kebetulan sama dengan Muhammadiyah.

“Itulah Jalan Ninja Bermuhammadiyah”

Jalan yang tidak selalu ramai, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu mendapat tepuk tangan. Tetapi di jalan itulah kita belajar bahwa berMuhammadiyah bukan sekadar memakai identitas, melainkan memahami alasan di balik identitas itu.

Kita tidak cukup hanya mengatakan: “Saya Muhammadiyah”, tetapi harus sampai pada kesadaran: “Saya memahami mengapa saya Muhammadiyah, memahami manhajnya, dan siap menjalaninya dengan ilmu dan adab.”

Sebab identitas bisa diwariskan dari orang tua, tradisi bisa diwariskan dari lingkungan, tetapi kesadaran tidak pernah bisa diwariskan. Ia harus dicari, harus dipelajari, harus diuji, dan harus diperjuangkan.

Maka, jangan sampai kita sibuk mempertahankan label “Muhammadiyah”, tetapi lupa memahami manhaj yang membuat Muhammadiyah berarti.

Jangan hanya menjadi orang yang tahu apa kata Muhammadiyah, tetapi jadilah kader yang memahami mengapa Muhammadiyah berkata demikian. Karena pada akhirnya, yang membuat kita kokoh bukan sekadar identitas yang kita pakai, tetapi ilmu yang kita pahami, keyakinan yang kita bangun, dan manhaj yang dengan sadar kita jalani.

“Identitas boleh melekat pada nama, tetapi manhaj harus hidup dalam cara kita berpikir, bersikap, dan beramal. Itulah Jalan Ninja Bermuhammadiyah, Wallāhu a‘lam bish-shawāb”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Edukasi Adab dan Esensi Ziarah Kubur, SMP Muhammadiyah 16 Surabaya Gelar Ujian Praktik Langsung di Pemakaman

Surabaya, liputanmu — Ziarah kubur telah lama menjadi tradisi yang melekat kuat di tengah masyarakat Indonesia. Kendati demikian, pemahaman...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img