Surabaya, liputanmu – Suara takbir menggema dari Masjid Jendral A. Yani. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…” lantunannya terdengar hingga Jalan Raya Sidoyoso. Para pengendara yang melintas sempat saling pandang dengan wajah heran. “Masih puasa kok sudah ada takbiran?” barangkali begitu yang terlintas di benak mereka.
Namun rasa penasaran itu segera terjawab. Ternyata suara takbir tersebut berasal dari anak-anak SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) yang sedang melaksanakan simulasi Sholat Idul Fitri. Kegiatan ini menjadi bekal penting bagi para siswa sebelum mereka memasuki masa libur Ramadan dan menyambut hari kemenangan.
Suasana halaman dan masjid Jendral A. Yani dipenuhi keceriaan oleh siswa, pagi itu mereka akan melaksanakan simulasi sholat Idul Fitri. Anak-anak duduk rapi, mengenakan pakaian muslim terbaik mereka. Wajah-wajah kecil itu tampak penuh antusias, seolah benar-benar sedang menanti pagi Idul Fitri.
Simulasi sholat Idul Fitri ini dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama diikuti siswa kelas 1, 2, dan 3. Pada kesempatan itu, imam sekaligus khotib dipercayakan kepada Azfar Atallah Danish, siswa kelas 6 Al Fattah yang juga Wakil Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kids Mumtas.
Sementara gelombang kedua diikuti siswa kelas 4 dan 5 dengan imam dan khotib Umar Muhammad Alfatih.
Sebelum simulasi dimulai, Ustadz Moh. Ali, M.Pd., Kepala Urusan (Kaur) Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA) SD Mumtas memberikan penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan Sholat Idul Fitri sesuai sunnah Rasulullah SAW. Dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami anak-anak, ia menjelaskan tahap demi tahap pelaksanaan ibadah tersebut.
“Sholat Idul Fitri tidak hanya tentang dua rakaat saja, tetapi ada sunnah-sunnah yang dianjurkan sejak sebelum berangkat ke tempat sholat.” Jelasnya.
Lanjut lanjut, ia memulai penjelasan dari amalan sebelum sholat, seperti mandi sunnah Idul Fitri, mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, serta makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempat sholat.
Setelah itu, Ustadz Ali, panggilan akrabnya, menjelaskan tata cara pelaksanaan sholat, mulai dari niat, takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, hingga mendengarkan khutbah setelah sholat selesai.
Sesaat kemudian, simulasi dimulai. Azfar, panggilan akrab Azfar Atallah Danish, melangkah ke depan dan memimpin sholat dengan penuh percaya diri. Suaranya terdengar lantang dan tertib, diikuti ratusan siswa yang berdiri rapi di belakangnya.
Setelah sholat selesai, ia melanjutkan dengan khutbah Idul Fitri. Muqaddimah khutbah disampaikannya dengan fasih dan lancar. Dalam khutbahnya, Azfar menyampaikan pesan takwa serta mengajak jamaah untuk tetap rajin beribadah meskipun Ramadhan telah berakhir.
“Ramadan telah melatih kita untuk taat kepada Allah. Setelah Ramadhan selesai, jangan sampai ibadah kita ikut selesai.” Pesannya.
Ia juga mengajak para siswa untuk mempererat silaturahmi kepada orang tua, keluarga, dan tetangga saat hari raya tiba.
Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga merasakan langsung suasana pelaksanaan sholat Idul Fitri. Harapannya, ketika hari raya benar-benar tiba, mereka sudah siap melaksanakan ibadah tersebut dengan benar dan penuh kekhusyukan. (Afuw Elkhoir).














