Probolinggo, liputanmu – Menyambut tahun ajaran baru yang penuh dengan tantangan dan dinamika, Super Team Sekolah Inovatif SD Muhammadiyah 7 Surabaya melakukan aksi yang tidak biasa. Bukan sekadar rapat kerja di dalam ruangan, mereka memilih untuk menantang diri dengan mendaki salah satu gunung terindah di dunia, Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, pada Ahad malam (14/06/2026).
Perjalanan spiritual dan fisik ini diikuti oleh 32 peserta yang tangguh, terdiri dari jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo; Sekretaris Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I., Wakil Ketua Ustadz Arif Rusdi, ST., Ustadz Taufik Hidayanto, Ustadz Suradi, SE., Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PCM Wonokromo, guru dan karyawan Sekolah Inovatif, serta beberapa anggota keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah Inovatif SDM 7 Surabaya, Ustadz Achmad Zainuri Arif, M.Pd., menegaskan bahwa pendakian ini bukan sekadar rekreasi, melainkan sebuah refleksi mendalam, dimana untuk mencapai puncak kesuksesan, khususnya pendidikan, dibutuhkan perjuangan.
“Untuk mencapai puncak kesuksesan pendidikan, dibutuhkan perjuangan tanpa lelah, pengorbanan, dan optimisme yang kokoh.” Tuturnya penuh optimis menyongsong tahun ajaran baru.
Empat Filosofi Mendalam dalam Perjuangan
Di balik keindahan pemandangan Bromo, lanjut, Ustadz Ari, para pendidik ini memetik empat filosofi mendalam yang siap mereka bawa ke dalam ruang-ruang kelas:
Pertama, Menembus Kegelapan Subuh: Keberanian Berinovasi dalam Ketidakpastian. Perjalanan dimulai saat malam masih pekat dan udara sedingin es. Di bawah rabaan cahaya lampu jeep, para guru terus melangkah demi mengejar fajar (sunrise).
Hal ini menjadi cermin bagi dunia pendidikan. Memulai sebuah inovasi sekolah sering kali harus berhadapan dengan ketidakpastian, keterbatasan fasilitas, hingga keraguan dari lingkungan sekitar.
“Namun, guru inovatif adalah para penggerak sejati. Mereka adalah lenteranya, berani melangkah di tengah kegelapan dan memimpin perubahan bahkan sebelum hasil akhir terlihat nyata.” Tandas Ustadz Ari.
Kedua, Mengarungi Lautan Pasir: Konsistensi di Tengah Badai Hambatan. Berjalan di hamparan Lautan Pasir (Segara Wedi) adalah ujian fisik yang sesungguhnya. Setiap langkah terasa berat karena kaki yang tenggelam di pasir, ditambah debu yang kerap menghalangi pandangan.
Begitu pula dengan proses memajukan sekolah. Guru sering kali dihadapkan pada rutinitas yang menjemukan, resistensi terhadap sistem baru, hingga perubahan regulasi yang melelahkan.
“Perjuangan di lautan pasir ini mengajarkan satu hal: konsistensi dan ketahanan mental adalah kunci utama agar visi besar sekolah tidak kandas di tengah jalan.” Tegasnya.
Ketiga, Meniti Anak Tangga Kawah: Menghargai Proses yang Terarah. Untuk bisa berdiri di puncak kawah, tidak ada jalan pintas. Para pendaki harus menapaki ratusan anak tangga yang curam dan sempit satu per satu, sembari mengatur napas yang kian memburu.
Di sinilah letak esensi transformasi mutu sekolah. Keberhasilan tidak terjadi dalam semalam. Pembenahan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, inovasi pembelajaran dan pembentukan karakter siswa adalah akumulasi dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
“Setiap program kerja adalah anak tangga yang harus diselesaikan dengan sabar, disiplin, dan terencana.” Katanya.
Keempat, Puncak Kawah dan Gemuruh Magma: Menjaga Api Semangat yang Tak Kunjung Padam. Setibanya di puncak, rasa lelah itu lunas terbayar. Rasa takjub hadir menyaksikan kemegahan alam, berpadu dengan suara gemuruh magma dari dalam kawah aktif—denyut nadi kehidupan Gunung Bromo.
Bagi Sekolah Inovatif, puncak keberhasilan adalah saat lembaga pendidikan mampu memberikan dampak nyata dan maslahat bagi masyarakat. Guru bahu membahu membersamai orang tua dalam mengembangkan potensi murid yang beragam demi mencapai puncak prestasinya dan menggapai kesuksesan masa depan di dunia dan akhirat.
Gemuruh kawah tersebut melambangkan “api semangat” di dalam dada para guru yang tidak boleh redup. Guru inovatif harus terus menjaga gairah belajar (passion) agar sekolah tetap hidup, relevan, dan terus melesat maju menjawab tantangan zaman.
Sinergi dan Kolaborasi yang Solid
Pendakian ini juga membuktikan bahwa pundak seorang pimpinan tidak akan kuat berjalan sendiri tanpa dukungan keluarga dan seluruh anggota tim. Melalui perjalanan ini, Super Team Sekolah Inovatif belajar untuk saling melengkapi, memahami kekurangan, dan melejitkan kelebihan satu sama lain.
Dengan semangat sedahsyat magma Bromo dan kekompakan yang telah teruji oleh alam, Super Team Sekolah Inovatif kini siap melangkah tegap menyongsong tahun ajaran baru. Siap mencetak generasi Sang Inovator Pemimpin Masa Depan yang Bertaqwa, Berilmu, Berprestasi. (Humas/Sekolah Inovatif SDM 7).














