Inspirasi Kehidupan : Moderasi Beragama Hanya Ilusi, Kemenag dan MUI Intoleran?
Oleh KH. Nurbani Yusuf
(Komunitas Padhang Makhsyar)
Pernyataan Menteri Yaqut Cholil Qoumas bahwa Depag adalah hadiah negara buat NU — itu intoleran dan ahistoris.
Pernyataan Kyai Muhammad Cholil Nafis dalam forum MUI menyebut yang umumkan 1 Syawal selain pemerintah haram— itu intoleran.
Fatwa Menteri Nasaruddin Umar bahwa zakat tidak perlu karena tidak populer — tidak kami taati.
Dua tiga kali lebih saya hadir dalam pelatihan moderasi beragama yang diselenggarakan Kemenag dan MUI:
Pertama, Tentang pentingnya saling menghormati dan menghargai perbedaan. Tentang kebersamaan guyup dan rukun.
Kedua, Dipesankan pula agar tidak menyinggung masalah khilafiyah untuk menjaga kondusifitas.
“Dan kami percaya. Kami juga mengamalkan semampu yang saya bisa”
Kemenag dan MUI milik semua rakyat Indonesia — bukan milik golongan tertentu ormas tertentu. Tidak berpihak kepada salah satu madzhab: meninggikan satu madzhab sambil merendahkan yang tidak sepemahaman : itu intoleran. Itu tirani. Itu intimidasi.
Bahwa berbeda itu sunatullah. Berbeda agama itu niscaya. Berbeda madzhab, manhaj, aliran golongan juga lazim.
Kita hidup di negara yang beraneka: Suku, bahasa, agama, dan ras. Tetap bersatu saling menguatkan bukan saling meniadakan.
Tidak ada mayoritas menguasai minoritas. Kita duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
“Indonesia bukan negara agama. Negara menjamin kebebasan warga negaranya menganut agama dan kepercayaannya tanpa intimidasi – bunyi konstitusi”
Betapa indahnya perbedaan: Temen saya membatalkan puasa hari jum’at. Shalat iednya hari Sabtu.
Suami isteri Kang Partono dan Mbak Mami selama puluhan tahun berbeda hari 1 Ramadhan dan 1 Syawal tetap saling mencintai.
Ada Masjid yang dipakai shalat Ied dua kali bergantian. Karpet dan sound sistemnya di pakai bersama. Tukang parkirnya bergantian. Imam dan khatibnya berbeda tetap rukun tidak saling mencela.
Temen-temen banser di Sukabumi menjaga dan memastikan jamaah shalat Ied pada hari Jum’at berlangsung aman terkendali.
Saya shalat Ied pada hari Jum’at dan menahan diri berlebaran pada hari Sabtunya demi menjaga hati.
Hisab dan Ru’yat adalah sepasang metode bersandar pada dua pusaka: Al-Qur’an dan Sunah Maqbullah. Keduanya saling menggenapi. Berdampingan bukan berhadapan.
“Lazimnya Kemenag dan MUI menjaga keduanya sebagai harmoni. Indahnya jika keduanya dihadiri bergantian, tanpa saling menafikan, syukur-syukur pak Ketua MUI dan pak Menteri Kemenag berkenan hadir di shalat kami”














