Monday, May 25, 2026
Monday, May 25, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Antara Persia dan Iran: Ketika Hadits Ditarik ke Tengah Konflik Politik

Must Read

Antara Persia dan Iran: Ketika Hadits Ditarik ke Tengah Konflik Politik

Oleh Ustadz Asruri Muhammad 

(Pemerhati Sosial Keagamaan)

Hadits Nubuat di Tengah Perang Narasi

Di tengah gejolak dunia Islam hari ini, ketika konflik geopolitik semakin kompleks dan narasi identitas kian mengeras, tidak sedikit teks keagamaan ikut terseret ke dalam pusaran tafsir yang sarat kepentingan. Hadits Nabi ﷺ yang sejatinya menjadi petunjuk umat, terkadang dipahami secara parsial, lalu ditempatkan dalam kerangka konflik politik kontemporer.

Dalam situasi seperti ini, muncul kecenderungan untuk mengaitkan peristiwa-peristiwa modern dengan nubuat-nubuat klasik secara langsung, tanpa kehati-hatian metodologis yang memadai. Bahkan, sebagian hadits yang bersifat ikhbari—yang berisi kabar atau isyarat (sering disebut sebagai hadits nubuwwat)—ditarik begitu saja ke dalam konflik politik hari ini.

“Akibatnya, hadits tidak lagi diposisikan sebagai sumber bimbingan yang proporsional, melainkan sebagai alat legitimasi narasi tertentu”

Persia dalam Hadits, Iran dalam Politik

Istilah “Persia” dalam hadits memiliki konteks historis yang berbeda dengan “Iran” sebagai negara modern. Dalam sejumlah riwayat, Nabi ﷺ menyebut keutamaan kaum Persia—sebagaimana dalam hadits tentang iman yang “meski di Tsurayya akan diraih oleh orang-orang dari Persia”. Namun, para ulama memahami bahwa pujian ini tidak bersifat mutlak pada ras atau wilayah, melainkan pada mereka yang beriman dan berilmu.

Di sinilah letak kekeliruan dsn kerancuan yang sering terjadi: menyamakan secara langsung Persia dalam teks klasik dengan Iran dalam konteks politik modern. Padahal, antara keduanya terbentang jarak sejarah, perubahan identitas, serta dinamika sosial yang tidak sederhana.

Lebih jauh, tidak semua Persia adalah Syiah, dan tidak semua Syiah adalah Persia. Sejarah justru mencatat bahwa banyak ulama besar Ahlus Sunnah lahir dari wilayah Persia, seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan lainnya. Maka menjadikan “Persia” sebagai legitimasi ideologi tertentu adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya.

Ulama, Kritik, dan Keberanian Ilmiah

Dalam dinamika modern, muncul sosok-sosok ulama yang berdiri di garis depan dalam mengkritisi berbagai aliran pemikiran. Salah satunya adalah Ihsan Ilahi Zahir, ulama asal Pakistan yang dikenal melalui karya-karyanya dalam membahas kelompok-kelompok teologis dengan pendekatan argumentatif.

Ia hidup di tengah menguatnya pengaruh Revolusi Iran 1979, dan memilih untuk menyuarakan kritik berdasarkan apa yang ia yakini sebagai kebenaran ilmiah. Terlepas dari setuju atau tidaknya terhadap pendekatannya, yang jelas, tradisi Islam memang memberi ruang bagi kritik, dialog, dan perbedaan.

Ulama-ulama besar seperti Abdul Aziz bin Baz, Muhammad Nashiruddin al-Albani, dan Muqbil bin Hadi al-Wadi’i menunjukkan bahwa perbedaan pandangan adalah bagian dari dinamika keilmuan, bukan alasan untuk saling menegasikan secara mutlak.

Agama dan Politik: Batas Kebenaran yang Sering Rancu

Ketika agama dan politik saling beririsan, batas antara keduanya sering kali menjadi rancu. Peristiwa politik kemudian dibaca sebagai representasi kebenaran teologis, sementara teks agama ditarik untuk membenarkan posisi politik tertentu.

Padahal, tidak semua peristiwa sejarah adalah manifestasi langsung dari hadits atau nubuat. Mengaitkan keduanya tanpa disiplin ilmu yang memadai justru berisiko mereduksi agama menjadi alat pembenaran, bukan sebagai sumber petunjuk yang bijak.

Islam mengajarkan kehati-hatian dalam menilai. Tidak tergesa-gesa, tidak mudah menggeneralisasi, dan tidak menjadikan prasangka sebagai dasar dalam memahami realitas.

Ummatan Wasathan: Jalan Keadilan di Tengah Polarisasi

Allah ﷻ menyebut umat ini sebagai ummatan wasathan—umat yang adil, seimbang, dan menjadi saksi bagi manusia. Keadilan ini tidak hanya berlaku kepada kawan, tetapi juga kepada pihak yang berbeda, bahkan yang kita anggap keliru.

Menjadi adil bukan berarti kehilangan sikap, tetapi menempatkan sesuatu secara proporsional. Tidak membela karena sentimen, dan tidak menolak karena kebencian.

Di tengah derasnya arus narasi hari ini, sikap ini justru semakin langka.

Menjaga Agama dari Tarikan Konflik Kepentingan

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang Persia atau Iran, bukan pula tentang siapa yang benar dalam konflik politik. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana kita memperlakukan agama: apakah sebagai petunjuk yang menuntun, atau sebagai alat yang ditarik ke sana kemari sesuai kepentingan.

Hadits Nabi ﷺ tidak diturunkan untuk memperuncing konflik, tetapi untuk menuntun manusia menuju kebenaran dan keadilan. Maka, menjaganya dari penyalahgunaan adalah bagian dari amanah keilmuan.

Di tengah dunia yang bising oleh klaim dan narasi, umat ini dituntut untuk tetap jernih: adil dalam menilai, hati-hati dalam memahami, dan teguh dalam memegang prinsip.

“Karena di situlah letak kemuliaan ummatan wasathan: bukan dalam kerasnya suara, tetapi dalam jernihnya sikap”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Semarak IGABA Surabaya Concert “’Aisyiyah Smart Band”, Tiga AUA Cabang Kenjeran Sapu Prestasi Divisi Utama

Surabaya, Liputanmu-Suasana meriah dan penuh antusiasme mewarnai lomba Drumband IGABA Surabaya Concert “’Aisyiyah Smart Band” yang digelar di GOR...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img