Hakikat Penciptaan: Meneladani Rasulullah dalam Bingkai Tauhid
Oleh KH. Najih Ihsan
(Ahli Ilmu Tauhid, Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur)
Disampaikan pada Kajian Ahad Pagi Pencerah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo di Masjid Syuhada Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung Wonokromo Surabaya, Senin (01/06/2026).
Dunia bergerak dalam sebuah ketetapan yang agung. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah mentarbiyah yaitu mendidik dan mengatur diri kita serta seluruh alam semesta ini dengan kesempurnaan-Nya. Tidak ada satu pun yang tercipta secara kebetulan; semua berada dalam kendali dan skenario terbaik dari Sang Pencipta.
Lantas, untuk apa kita dan alam semesta ini ada? Jawabannya tunggal dan mutlak: untuk menyembah Allah.
Dua Cara Bersujud kepada Sang Pencipta
Dalam menunaikan tujuan penciptaan ini, Allah membaginya menjadi dua ketetapan yang luar biasa:
Pertama, Ibadah Kauniyah (Alam Semesta): Seluruh makhluk selain manusia—mulai dari matahari, bumi, lautan, hingga dedaunan yang gugur—menyembah Allah sesuai dengan hukum alam (sunnatullah) yang telah ditetapkan bagi mereka.
“Mereka patuh tanpa bantahan, bertasbih dengan cara mereka sendiri yang tak kita pahami”
Kedua, Ibadah Syari’ah (Manusia melalui Tauhid): Berbeda dengan alam, manusia diberikan kehendak dan akal. Kita menyembah Allah melalui jalur Tauhid—mengesakan Allah secara sadar, memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, dan tunduk pada syariat-Nya atas dasar cinta dan iman.
Meniru Rasulullah: Bukan Sekadar Penampilan, tapi Kebiasaan
Dalam meniti jalan tauhid tersebut, manusia membutuhkan kompas. Kompas terbaik itu ada pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun, ada hal mendasar yang sering kali disalahpahami dalam hal “meniru” Nabi.
“Meniru Rasulullah itu bukanlah sekadar perkara cara berpakaiannya, melainkan meniru kebiasaan, akhlak, dan sunnah-sunnahnya”
Pakaian sering kali dipengaruhi oleh budaya, geografis, dan zaman tempat beliau hidup. Namun, inti dari sunnah adalah karakter dan esensi kehidupan beliau.
Bagaimana beliau memperlakukan tetangga, bagaimana kejujuran beliau dalam berdagang, bagaimana kelembutan beliau dalam bertutur kata, dan bagaimana keteguhan beliau dalam beribadah—itulah sunnah sejati yang harus kita jiplak dalam kehidupan sehari-hari.
Terbimbing Wahyu, Bukan Nafsu
Mengapa kehidupan Rasulullah begitu mulia hingga layak menjadi tiruan mutlak? Jawabannya terletak pada apa yang menggerakkan beliau.
Nabi Muhammad tidak pernah melangkah atau mengambil keputusan berdasarkan hawa nafsu. Setiap helaan napas, keputusan politik, strategi perang, hingga urusan rumah tangga beliau selalu disandarkan pada petunjuk langit.
“Beliau adalah sebaik-baiknya manusia yang selalu mengikuti wahyu”
Ketika kita belajar mengendalikan nafsu dan menyandarkan segala urusan kita pada wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), di situlah kita sedang menyambut proses tarbiyah dari Allah. Kita sedang berjalan memenuhi takdir tertinggi kita: menjadi hamba yang berserah diri seutuhnya.














