Friday, July 24, 2026
Friday, July 24, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Kasta Baru Berkedok Bahasa: Ketika Kita Dibuat Merasa “Bodoh” oleh Penguasa

Must Read

Kasta Baru Berkedok Bahasa: Ketika Kita Dibuat Merasa “Bodoh” oleh Penguasa

Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.

(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)

Pernahkah kita merasa bingung mendengar pidato pejabat, membaca nama program pemerintah, atau mendengar obrolan para ahli di televisi? Rasanya seperti mendengar bahasa alien.

“Padahal, kebingungan itu seringkali sengaja diciptakan”

Ada kelompok tertentu yang sengaja memakai bahasa rumit. Tujuannya bukan untuk menjelaskan sesuatu agar kita paham, melainkan justru untuk menunjukkan bahwa: “Kami adalah kaum elite yang pintar, dan kamu tidak perlu paham.”

Mari kita lihat tiga contoh nyata di sekitar kita:

Pertama, Bahasa “Suci” di Bali: Di Bali, banyak program pemerintah atau festival yang menggunakan nama-nama dari bahasa Kawi atau Sanskerta yang kuno dan sulit dimengerti rakyat biasa.

“Sekilas, ini terdengar sangat suci, elegan, dan bernuansa masa kejayaan Majapahit”

Tapi tahukah Anda? Di masa lalu, kedatangan Majapahit justru menggeser penduduk asli Bali ke pinggiran dan memperlakukan mereka sebagai “orang luar” yang tidak berkuasa.

Kini, tanpa sadar, birokrasi mengulang sejarah itu. Rakyat biasa kembali dibuat merasa “kuno” atau “bodoh” karena tidak paham bahasa yang dipakai para pembuat kebijakan.

“Kasta lama itu lahir kembali, dibungkus oleh bahasa yang tampak indah”

Kedua, Bahasa “Langit” di Panggung Politik: Fenomena yang sama juga terjadi di panggung politik bernuansa Islam. Banyak politisi yang tiba-tiba menyelipkan istilah Arab tingkat tinggi seperti baldatun toyyibatun atau fiqh siyasah dalam pidatonya.

“Tujuannya bukan agar rakyat paham isi kebijakannya, melainkan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pemegang otoritas agama”

Akibatnya? Rakyat kecil jadi takut mengkritik. Mengkritik kebijakan mereka seolah-olah sama dengan melawan titah langit dan berdosa. Rakyat dibuat pasrah oleh rasa takut.

Ketiga, Bahasa “Korporat” di Jakarta: Lalu, mari kita lihat ke gedung-gedung tinggi di Jakarta. Para pejabat dan teknokrat sering bicara menggunakan campuran bahasa Inggris ala perusahaan: agile, pro-growth, fleksibilitas struktural. 

Bagi rakyat biasa—seperti buruh atau petani—bahasa ini seperti tembok tebal. Bahasa ini menciptakan kesan bahwa urusan negara adalah urusan “orang-orang hebat” saja.

Rakyat biasa yang tidak paham bahasa Inggris bisnis ini otomatis dianggap tidak kompeten dan disingkirkan dari keputusan-keputusan penting yang sebenarnya menyangkut nasib hidup mereka.

Bahayanya Kekerasan yang Tak Terlihat

Dalam ilmu sosial, praktik ini disebut sebagai “kekerasan simbolik”. Para elite menggunakan bahasa sebagai senjata untuk membuat kita merasa rendah diri. Kita akhirnya menerima keadaan ini sebagai sesuatu yang wajar.

“Kita diam, merasa bodoh, dan pasrah karena merasa memang bukan level kita untuk paham”

Ini adalah ironi yang sangat menyedihkan. Dulu, bahasa Indonesia yang sederhana dan merakyat adalah senjata untuk melawan penjajah dan feodalisme. Tapi sekarang? Bahasa-bahasa rumit itu justru dipakai oleh elite kita sendiri untuk menjauhkan rakyat dari hak-haknya.

Tapi tunggu dulu…sebelum kita marah pada para pejabat dan politisi, ada satu pertanyaan menohok untuk kita (terutama kaum intelektual, penulis, atau pengamat sosial): Jangan-jangan kita sendiri juga tidak berbeda?

Kita sering menulis atau berdiskusi dengan gaya bahasa yang tinggi, meratapi nasib rakyat kecil dari “menara gading” kita sendiri. Tanpa sadar, kita juga sedang menciptakan “geng” pintar kita sendiri yang bahasanya sama sekali tidak terjangkau oleh rakyat kecil yang sedang kita bela.

Pada akhirnya, siapa yang paling dirugikan? Tetaplah si “wong cilik”. Mereka disingkirkan, bukan oleh pedang atau senjata, melainkan oleh kata-kata yang bahkan tidak mereka pahami.

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Empat Kandidat Lolos Seleksi Administrasi Calon Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 3 Surabaya Periode 2026–2030

Surabaya, liputanmu — Panitia Pemilihan Kepala Sekolah Unggul dan Berkarakter SMA Muhammadiyah 3 (Smamga) Surabaya secara resmi mengumumkan nama-nama...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img