Inspirasi Kehidupan: Mengingat Akar dan Kemuliaan Seorang Guru
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)
“Setinggi dan sehebat apapun kita, jangan lupakan gurumu”
(Catatan kecil, pertemuan dengan Mas Nashir alumni Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya yang studi di Turki, dan ikut aktif di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Istimewa (PCIM) Turki)
Kalimat ini bukan sekadar pepatah atau pengingat masa lalu, melainkan sebuah petuah moral yang menjaga kesadaran manusia agar tidak tergelincir dalam kesombongan ketika berada di puncak pencapaian.
Ingatlah Jejak Kaki di Balik Kesuksesan
Dalam kehidupan, ketika seseorang telah mencapai kesuksesan, baik dalam karier, kedudukan, atau ilmu pengetahuan, sering kali mata kita hanya tertuju pada hasil akhirnya: “gelar, jabatan, materi, dan tepuk tangan dunia”.
Padahal, di balik setiap pencapaian hebat dalam kehidupan kita, akan selalu ada beberapa catatan penting, yakni:
Pertama, Ketulusan tangan yang membimbing jari kita saat pertama kali belajar merangkai kata.
Kedua, Kesabaran luar biasa dari seseorang yang tidak lelah menghadapi kebodohan dan kebandelan kita di masa lalu.
Ketiga, Doa-doa senyap yang dipanjatkan di sepertiga malam oleh mereka agar murid-muridnya kelak menjadi orang yang berguna.
Ingatlah Ilmu yang Mengalir adalah Amal yang Tak Terputus
“Guru adalah jembatan pertama yang menghubungkan ketidaktahuan kita dengan luasnya dunia pengetahuan”
Setiap ilmu yang kita amalkan, setiap kebaikan yang kita ajarkan kepada orang lain, dan setiap pencapaian yang kita raih hari ini, sebagian aliran pahalanya dan kebaikannya akan terus mengalir kepada mereka yang pernah meletakkan batu bata pertama dalam bangunan intelek dan karakter kita.
“Melupakan guru sama dengan memutus rantai rasa syukur atas nikmat ilmu yang pernah diberikan”
Waspadai Jebakan Kesombongan
Bahaya terbesar dari kesuksesan adalah lupa daratan. Manusia sering kali terjebak dalam ilusi bahwa apa yang ia capai adalah murni hasil kerja kerasnya sendiri (self-made).
“Ingatlah kisah Qarun, kesombongannya melampaui batas, akhirnya mendapatkan bencana, ditenggelamkan bersama hartanya. Ingatlah pula kisah Namrud, Firaun, binasa karena kesombongan yang melampaui batas”
Padahal, tanpa sentuhan tangan dingin seorang guru, potensi terbaik kita mungkin hanya akan terkubur tanpa pernah dikenal dunia. Mengingat guru adalah cara terbaik untuk meredam ego, menjaga kerendahan hati (humility), dan menyadari bahwa kita semua pernah menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa.
Bakti yang Tak Lekang oleh Waktu
“Kemuliaan seorang guru tidak diukur dari seberapa terkenal dirinya, melainkan dari seberapa banyak orang hebat yang ia lahirkan tanpa pernah meminta balasan”
Maka, di manapun kita berada sekarang, seberapa tinggi pun singgasana yang kita duduki, jangan pernah ragu untuk sekadar menengok ke belakang, menyapa, mendoakan, atau berterima kasih kepada mereka.
“Sebab, setinggi-tingginya burung terbang, ia tetap membutuhkan dahan untuk kembali beristirahat; dan sehebat-hebatnya manusia, ia tetaplah seorang murid di hadapan guru-gurunya”














