Inspirasi Kehidupan : Menata Niat dalam semua Amal Kebaikan
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW telah mengingatkan kita tentang pentingnya niat dalam segala amal kebaikan, yakni:
عَنْ اَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ اَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ ﷺ يَقُوْلُ اِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهٗ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا اَوْ اِمْرَاَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهٗ اِلَى مَا هَاجَرَ اِلَيْهِ
Artinya :“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al-Khattab RA, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”
Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abu Al-Husain, Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang
Menata Niat: Menjemput Ridha Allah dalam Setiap Langkah
Marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu bentuk takwa yang paling mendasar adalah dengan senantiasa menjaga dan menata niat dalam hati kita.
Segala amal perbuatan kita, baik yang besar maupun yang kecil, sangat bergantung pada niatnya. Niat bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan penggerak di dalam hati.
“Niat adalah pembeda antara kebiasaan dan ibadah”
Seseorang yang mandi karena gerah, maka hanya mendapatkan kesegaran. Namun, jika seseorang yang mandi dengan niat mengikuti sunnah atau bersuci, maka setiap tetesan airnya menjadi pahala.
Mengapa Kita Harus Menata Niat?
Pertama, Niat adalah Penentu Diterimanya Amal; Tanpa keikhlasan karena Allah, amal yang melelahkan sekalipun akan sia-sia seperti debu yang beterbangan.
Kedua, Mengubah Hal Duniawi Menjadi Ukhrawi; Bekerja mencari nafkah, belajar di sekolah, bahkan tidur pun bisa bernilai pahala jika diniatkan untuk menjaga kesehatan badan agar kuat beribadah kepada Allah.
Ketiga, Penjaga Keistiqomahan; Orang yang niatnya karena pujian manusia akan mudah menyerah saat dicela. Namun, orang yang niatnya karena Allah akan tetap tegak berdiri meski tak ada yang memuji.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bertanya pada diri sendiri sebelum melangkah :“Untuk siapa aku melakukan ini, apakah untuk ridha Allah, atau hanya untuk pandangan manusia.”
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita agar tetap lurus dan ikhlas dalam setiap amal kebajikan.
Sebagai penutup, ada sebuah nasihat dari para ulama: “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil (hambar) karena niatnya.”
“Menata niat bukanlah pekerjaan sekali jalan, melainkan perjuangan seumur hidup. Niat bisa berubah di tengah jalan karena bisikan setan atau godaan dunia. Maka, sering-seringlah memperbaharui niat kita (tajdidun niyah)”














