Saturday, April 11, 2026
Saturday, April 11, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan: Ramadhan Sudah Pergi, Tapi Kenapa Masjid Ikut Sepi?

Must Read

Inspirasi Kehidupan: Ramadhan Sudah Pergi, Tapi Kenapa Masjid Ikut Sepi?

Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.

(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)

“Ramadhan itu bukan puncak ibadah, tapi titik start kehidupan yang lebih dekat dengan Allah”

Dulu kita berdoa, “Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadhan”. Kita rindu suasananya, kita ingin berubah. Dan ketika Ramadhan datang, kita benar-benar berubah. Yang biasanya sulit bangun malam jadi ringan untuk tahajud. Yang jarang ke masjid jadi rajin berjamaah. Yang jauh dari Al-Qur’an jadi akrab kembali.

MasyaAllah, ternyata kita mampu. Tapi hari ini, setelah Ramadhan pergi, kenapa semuanya ikut pergi?

Masjid yang dulu penuh, kini kembali lengang. Al-Qur’an yang dulu dibaca setiap hari, kini mulai berdebu. Sholat malam yang dulu rutin, kini tinggal kenangan. Ini bukan tentang Ramadhan yang telah berlalu. Ini tentang iman kita yang tidak kita jaga.

“Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama hari ini. Tidak berubah, tidak berkurang. Yang berubah adalah semangat kita”

Allah berfirman :“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99).

“Artinya, ibadah itu bukan musiman. Bukan hanya saat Ramadhan. Tapi sampai akhir hayat”

Seringkali kita tanpa sadar menjadikan Ramadhan sebagai musim ibadah. Kita rajin karena suasana, karena lingkungan, karena semua orang melakukannya. Tapi ketika suasana itu hilang, kita pun ikut hilang.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda :“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).

Bukan tentang berapa kali kita khatam Al-Qur’an di Ramadhan, tapi apakah setelah itu kita masih membukanya, walau hanya satu halaman.

Bukan tentang ramainya tarawih, tapi apakah kita masih melangkah ke masjid, meski sendirian. Bukan tentang panjangnya sujud di sepuluh malam terakhir, tapi apakah kita masih punya sujud di malam-malam biasa.

Memang benar, istiqomah itu memang berat. Tidak ada sorakan. Tidak ada suasana spesial. Ia sunyi tapi di situlah Allah melihat kesungguhan kita.

Allah juga mengingatkan :“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan.” (QS. Hud: 112).

Kalau hari ini iman terasa turun, itu manusiawi. Rasulullah ﷺ bersabda :“Sesungguhnya iman itu bertambah dan berkurang.” (HR. Ahmad).

Tapi jangan biarkan diri terus turun tanpa usaha bangkit. Mulailah lagi pelan-pelan. Tidak perlu langsung seperti Ramadhan. Tidak perlu sempurna. Cukup satu langkah kecil tapi konsisten.

Satu halaman Al-Qur’an setiap hari. Dua rakaat sholat malam meski singkat. Satu langkah ke masjid setiap hari. Karena yang kecil tapi terus dilakukan, itulah yang dicintai Allah.

“Resapi, Ramadhan memang telah pergi. Tapi Allah tidak pernah pergi. Pintu taubat masih terbuka”

Allah berfirman :“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).

Jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi kenangan, tanpa perubahan. Jadikan Ramadhan sebagai awal perjalanan bukan akhir perjuangan.

“Karena orang yang benar-benar berhasil di Ramadhan, bukan yang paling sibuk ibadah saat itu, tapi yang tetap dekat dengan Allah setelahnya”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Antusiasme Siswa Kelas 9 SMP Muhammadiyah 1 Surabaya Ikuti TKA Berbasis Komputer

Surabaya, liputanmu - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) kelas 9 di SMP Muhammadiyah 1 Surabaya berlangsung pada 6–9 April...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img