Inspirasi Kehidupan : Iran Meraih Banyak Simpati, Wahabi Kehilangan Legitimasi
Oleh KH. Nurbani Yusuf
(Komunitas Padhang Makhsyar)
The Coming Balkan Caliphate oleh Christopher Deliso (2007) menggambarkan titik-titik api ledakan dari Balkan akibat radikalisasi yang sedang digerakan para fundamentalis Wahabi-Arab.
Deliso meramalkan, bahwa dalam dua dekade yang akan datang, kawasan ini akan menjadi basis global bagi gerakan jihadis radikal. Terbukti !!
Tuduhan Ustadz Khalid Basalamah bahwa Ayatullah Imam Khomeini keturunan Yahudi tanpa dasar riwayat nasab dan test DNA valid sungguh sangat menyedihkan.
“Jauh dari nilai-nilai Islam yang diteladankan Nabi SAW dan para salafus-saleh”
Yang dilakukan Wahabi terhadap perang Iran adalah menggunting dalam lipatan, menikam dari belakang, sungguh tidak terpuji!
Siapapun yang mengidap Takfiri bakal kehilangan akal sehat, ar rasional, a moral. Humanitasnya menipis, hanya sekedar duduk bersama atau membantu seteguk air putih pada yang haus saja. Ia akan bertanya agama, ideologi atau manhaj yang dianut.
Perang Iran melawan kezaliman Amerika salah satunya : Wahabi akan melihat dari sisi teologis yang paling ekstrim. Dengan mengesampingkan kemaslahatan umat manusia yang lebih besar.
Wahabi akan menarik sikap ekstrim, eksklusif dan fanatik menjadi sikap resmi yang dilembagakan sebagai identitas harakah— ini problem akut kelompok Takfiri dimanapun, baik Syiah Rafidhah, Khawarij, Mu’tazilah atau lainnya tanpa kecuali.
Para peneliti mencari tahu kenapa pluralitas dan multikultural yang pernah ada di Balkan tiba-tiba lenyap dan berganti dengan etno-religius yang seram. Tiga agama yang semula rukun tiba-tiba saling membenci dan saling merusak. Gereja dibakar, Masjid dirubuhkan dan menara dibongkar. Tinggal puing yang runtuh dan sisa amuk yang terus berkobar.
Yang terjadi, menurut Vjekoslav Perica (2002), dalam Balkan Idol, Religion and Nationalism in Yugoslave States, bukanlah “clash of civilizations” berbasis identitas esensial yang dikonstruksi oleh agama, tetapi politisasi etno-religius.
Para penguber kekuasaan di kalangan kelompok etnis Serbia yang merasa superior atas dua kelompok etnis tetangganya: Kroasia dan Bosniaks-Muslim.
Pasca perang, terjadi pembalikan yang menambah runyam, terutama ketika dana-tunai Arab mengucur di Bosnia-Herzegovina.
Sejak itu khotbah-khotbah fundamentalis meluas bersamaan dengan dibangunnya banyak masjid baru dan munculnya kelompok-kelompok Salafi radikal yang mulai merasuk dan memercikkan perpecahan etnis dan keagamaan intra-Islam.
Meluasnya konflik di Timur Tengah dan meningkatnya ancaman terorisme dari wilayah itu telah membuat Balkan berpotensi menjadi ajang perang baru di Eropa, melalui Balkan.
Salafisme melahirkan etnoreligion—sikap merasa paling benar dan superior di atas yang lainnya. Maka konflik internal di mulai dari Masjid-masjid dan halaqah. Kemudian makin membesar dan meluas.
Semula hanya sebatas jenggut, isbal, riba, seputar shalat, kemudian melahirkan identifikasi dan klasifikasi thalabal ilmu, al wala wa bara, ilmu bid’ah, ilmu subhat, dan ilmu sunah dst—dari masjid-masjid itu terus meluas hingga ke wilayah sosial dan politik.
“Dan yang tampak kemudian Balkan berubah muram. Khutbah dipenuhi caci maki saling mengkafirkan sesama mukmin dan saling membalas”














