Saturday, April 11, 2026
Saturday, April 11, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan : Jangan Jadi Keset, Tapi Belajarlah dari Keset

Must Read

Inspirasi Kehidupan : Jangan Jadi Keset, Tapi Belajarlah dari Keset

Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.

(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)

Ada sesuatu yang diam, tapi berbicara sangat dalam. Ia tidak bergerak, tidak memilih, tidak protes—namun setiap hari ia diuji; Keset.

Ia terhampar di depan pintu. Setiap orang datang dan pergi, menginjaknya tanpa permisi. Kaki kotor, sepatu berdebu, sandal basah—semuanya singgah di atasnya. Tapi ia tetap di sana. Tidak marah, tidak mengeluh, tidak memilih siapa yang layak menginjaknya.

Di titik ini, kita mungkin kagum. “Sabar sekali.” Kata kita.

Tapi tunggu dulu. Apakah benar hidup seperti itu yang kita inginkan?

Menjadi baik bukan berarti membiarkan diri terus-menerus diinjak. Ikhlas bukan berarti kehilangan harga diri. Sabar bukan berarti diam saat disakiti tanpa batas.

Keset mengajarkan kita tentang ketulusan. Tentang memberi tanpa memilih. Tentang tetap menjalankan fungsi meski sering dilupakan. Tapi keset juga diam, karena ia benda. Tidak punya hati, tidak punya batas, tidak punya pilihan.

“Sedangkan kita manusia punya semuanya; punya rasa, akal dan hak untuk menjaga diri”

Di sinilah sering terjadi kekeliruan. Kita terlalu bangga menjadi baik, sampai lupa bahwa kebaikan tanpa batas seringkali berubah menjadi kebodohan. Kita membiarkan diri disakiti berkali-kali, lalu menyebutnya sabar. Kita terus memberi, bahkan kepada yang tidak pernah menghargai, lalu menyebutnya ikhlas.

“Padahal bisa jadi itu bukan keikhlasan, tapi ketidakmampuan berkata cukup”

Keset tetap di tempatnya, karena memang itu tugasnya. Tapi kita? Kita bisa berpindah. Kita bisa memilih lingkungan. Kita bisa menjaga diri dari orang-orang yang hanya datang saat butuh, lalu pergi tanpa peduli.

Refleksinya Sederhana Tapi Mendalam

Jangan sampai kita lebih rendah dari keset yang bahkan tahu fungsinya, sementara kita lupa menjaga nilai diri kita sendiri.

Namun, bukan berarti kita harus menjadi keras. Bukan berarti kita berhenti berbuat baik, tidak juga.

Tetaplah jadi pribadi yang tulus. Tetaplah membantu. Tetaplah menyambut dengan hati yang lapang. Tapi tambahkan satu hal yang sering hilang: kesadaran diri.

  • Sadari kapan harus memberi.
  • Sadari kapan harus berhenti.
  • Sadari siapa yang layak diperjuangkan, dan siapa yang hanya datang untuk memanfaatkan.

“Karena hidup bukan tentang seberapa banyak kita diinjak, tapi tentang seberapa bijak kita menjaga langkah”

Dan ada satu hal lagi yang sering kita lupa dari keset. Ia selalu dibersihkan, dipindahkan, dan dirawat. Kalau tidak, ia akan rusak, bau dan tidak lagi nyaman digunakan.

Begitu juga hati kita. Kalau terus dipakai menampung luka, kecewa, dan perlakuan tidak adil tanpa pernah dibersihkan, maka lama-lama hati itu akan lelah. Kotor, bahkan mati rasa.

Maka sesekali, berhentilah dan jauhkan diri dari hal-hal yang menyakitkan. Rapikan hati, bersihkan pikiran dan dekatkan diri pada Allah SWT.

Karena sejatinya kita bukan keset. Kita adalah manusia yang dimuliakan. Berbuat baik itu mulia, tapi menjaga diri itu wajib. Dan harus dipahami bahwa di antara keduanya, ada keseimbangan yang harus kita jaga.

Jadilah hati yang lembut, tapi bukan lemah. Jadilah pribadi yang tulus, tapi bukan untuk diperlakukan semena-mena.

“Bismillah, tetap melangkah, tapi kali ini dengan lebih sadar arah”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Antusiasme Siswa Kelas 9 SMP Muhammadiyah 1 Surabaya Ikuti TKA Berbasis Komputer

Surabaya, liputanmu - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) kelas 9 di SMP Muhammadiyah 1 Surabaya berlangsung pada 6–9 April...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img