Surabaya, liputanmu – SICARA adalah Sistem Informasi Cabang dan Ranting milik Muhammadiyah. Tanpa SICARA, organisasi sebesar Muhammadiyah itu kayak raksasa yang jalan meraba-raba. Dalam rilisnya Rabu (16/06/2026).
Dengan SICARA, si raksasa ini jadi punya mata yang tajam buat melihat siapa yang butuh bantuan, dimana ada pergerakan, dimana ada kemajuan dan di mana peluang dakwah yang paling oke. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
“Jadi, SICARA itu fungsinya buat memastikan No One Left Behind (nggak ada yang tertinggal) di barisan perjuangan Muhammadiyah.” Ujar Ustadz Taufik, panggilan akrabnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa untuk maksud itu maka PCM Wonokromo mengadakan workshop intern bagi ranting yang ada di wilayah PCM Wonokromo yakni; Ranting Jagir, Jagir Mulyo, Wonokromo, Darmo dan Sawunggaling.
“Acara ini dimulai pada Rabu, 10 Juni 2026 bertepatan dengan rapat periodik mingguan PCM Wonokromo, dan akan dilanjutkan pada Rabu, 16 Juni 2026.” Katanya.
Ia mengungkapkan bahwa Pemateri Pelatihan SICARA ini adalah Ustadz Imam Abuh Hanif M.Pd.I., yang merupakan anggota Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, yang juga sebagai guru sekaligus Waka Kesiswaan di SMA Muhammadiyah 7 Surabaya.
Acara ini dihadiri seluruh Ketua Ranting yang ada di wilayah PCM Wonokromo dan para pimpinan cabang. Berikut analoginya Muhammadiyah dengan SICARAnya.
“Muhammadiyah sebagai Super-App Raksasa. Bayangkan Muhammadiyah itu seperti sebuah Super-App (seperti Gojek, Grab, atau Shopee) yang punya jutaan mitra (Cabang dan Ranting) di seluruh pelosok Indonesia.” Ungkapnya.
Skenario tanpa SICARA (Zaman Manual)
Ibarat aplikasi ojek online tapi nggak pakai GPS.
- Pusat (HQ): Tahu kalau mereka punya banyak mitra, tapi nggak tahu mitranya ada di mana saja, lagi sibuk apa, atau lagi kesulitan apa.
- Mitra (Cabang/Ranting): Ada mitra di pelosok desa yang “motornya mogok” (lagi kesulitan dana atau kekurangan orang). Karena nggak ada sistem, dia teriak-teriak minta tolong tapi suaranya nggak sampai ke Pusat. Akhirnya dia merasa sendirian dan di-ghosting sama organisasinya sendiri.
- Keputusan: Pas Pusat mau kasih bonus atau bantuan, mereka cuma kasih ke mitra yang paling dekat sama kantor pusat saja, karena cuma itu yang mereka tahu datanya. Nggak adil, kan?
Skenario dengan SICARA (Era Digital)
Sekarang, bayangkan aplikasi itu sudah Full Digital dengan GPS dan Dashboard Canggih.
- Pusat (HQ): Di layar monitor besar, Pusat bisa lihat titik-titik cahaya di seluruh peta Indonesia. Mereka bisa klik satu titik di pelosok Papua atau Aceh, lalu muncul datanya: “Oh, di sini ada 50 anggota, mereka punya klinik kecil, tapi lagi butuh pelatihan guru”.
- Mitra (Cabang/Ranting): Si mitra di desa tadi merasa tenang. Dia tinggal update datanya di SICARA, dan dia tahu Pusat “melihat” keberadaannya. Dia bukan lagi titik yang hilang, tapi bagian penting dari sistem besar.
- Keputusan: Pas ada anggaran buat bantuan, Pusat tinggal filter di dashboard: Tampilkan daerah yang infrastruktur digitalnya masih merah.
“BOOM! Bantuan langsung meluncur ke tempat yang bener-bener butuh, bukan cuma yang paling berisik atau paling dekat.” Pungkasnya. (Taufikhi).














