Surabaya, liputanmu – Ahad pagi, 2 Agustus 2026, Masjid Syuhada, Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung Wonokromo, Jl. Gadung III No. 7 menjadi saksi berkumpulnya jamaah dalam Kajian Rutin Ahad Pagi Pencerah Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Ustadz Moksin Pattimura, M.Th.I., tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan zaman; “Panduan Al-Qur’an dalam Menghadapi Era Digital”.
Dalam paparannya, Ustadz Moksin Pattimura, M.Th.I., mengingatkan bahwa kita hidup pada masa ketika informasi datang tanpa henti, bahkan dalam hitungan detik, jutaan konten memenuhi layar gawai, sehingga penting bagi kita untuk berhati-hati.
“Dalam hitungan detik, jutaan konten memenuhi layar gawai. Namun semakin deras arus informasi, semakin banyak pula manusia yang kehilangan arah, sehingga kita harus berhati-hati.” Ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an, yakni:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Artinya :”Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2).
Menurutnya, persoalan terbesar era digital bukanlah kurangnya informasi, tetapi hilangnya standar kebenaran. Yang viral dianggap benar, yang memiliki jutaan pengikut dianggap paling layak dipercaya. Padahal, ukuran kebenaran dalam Islam bukanlah popularitas, melainkan wahyu Allah.
“Al-Qur’an adalah cahaya yang menuntun manusia menuju jalan yang lurus. Ketika media sosial menggiring manusia mengikuti hawa nafsu, Al-Qur’an mengajak mengikuti petunjuk Allah SWT. Ketika dunia dipenuhi keraguan, Al-Qur’an justru telah menghadirkan kepastian.” Tegas Ustadz Moksin, panggilan akrabnya.
Ia kemudian menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ juga mengingatkan akan datang suatu zaman ketika manusia tidak lagi peduli dari mana hartanya diperoleh, halal atau haram. Bukankah fenomena itu begitu nyata hari ini? Demi viral, demi cuan, demi popularitas, sebagian orang rela menggadaikan kejujuran, menyebarkan fitnah, bahkan memperjualbelikan agama.
Lebih dari itu, lanjut Ustadz Mohsin, bahwa Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang munculnya Ruwaibidhah—orang yang minim ilmu dan kapasitas, tetapi berani berbicara tentang urusan umat. Ironisnya, di era media sosial, suara mereka sering kali lebih didengar daripada para ulama dan ahli ilmu.
“Yang pandai membuat sensasi lebih mudah mendapatkan perhatian daripada yang menyampaikan kebenaran. Maka, umat Islam hari ini tidak cukup hanya melek digital. Kita harus melek wahyu.” Tandasnya.
Pesan Penting Bijak Bermedia Sosial
Pertama, Sebelum membagikan berita, bertanyalah: Apakah ini benar?
Kedua, Sebelum menulis komentar, bertanyalah: Apakah ini bermanfaat?
Ketiga, Sebelum mengikuti seseorang, bertanyalah: Apakah ia mengajak kepada Allah, atau hanya mengajak kepada popularitas dirinya?
Sementara itu, Ustadz Agus Suwandi, Wakil Ketua PCM Wonokromo, menegaskan bahwa kajian yang diselenggarakan Majelis Tabligh PCM Wonokromo ini menjadi pengingat bahwa dakwah tidak boleh berhenti di mimbar. Menurutnya, nilai-nilai Al-Qur’an harus hadir di ruang digital.
“Nilai-nilai Al-Qur’an harus hadir di ruang digital, di media sosial, di grup WhatsApp, di sekolah, di tempat kerja, hingga di tengah keluarga.” Tuturnya.
Menurutnya, teknologi bukan musuh, tetapi musuh sesungguhnya adalah ketika teknologi mengendalikan hati yang jauh dari petunjuk Allah. Jadikan Al-Qur’an sebagai kompas, bukan sekadar pajangan, tetapi jadikan ia pedoman, bukan hanya bacaan.
Ustadz Agus, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa ketika Al-Qur’an memimpin kehidupan, teknologi akan menjadi sarana membangun peradaban. Namun ketika Al-Qur’an ditinggalkan, secanggih apa pun teknologi hanya akan mempercepat manusia menuju kesesatan.
Seperti Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, yang artinya; “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang sangat besar.” (QS. Al-Isra’: 9).
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memanfaatkan teknologi dengan iman, ilmu, dan hikmah, serta senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan. (Taufikhi)














