Surabaya, liputanmu — Pembinaan rutin Guru dan Karyawan Sekolah Unggul Nasional SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya dengan menghadirkan kajian mendalam yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Alim, M.Pd., di Meeting Room Spemma pada Rabu (05/08/2026).
Dalam kegiatan pembinaan yang sarat makna ini, ia mengajak seluruh tenaga pendidik dan kependidikan untuk melakukan muhasabah dengan merujuk pada kandungan Surat Ali ‘Imran ayat 133–134 serta nasehat agung dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
Dalam paparannya, Ustadz Alim, panggilan akrabnya, menyampaikan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni:
وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
Artinya :“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 133).
Dan juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya :“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134).
5 Poin Penting Menjadi Manusia Paripurna
Pertama, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengampun; Sebesar apapun kesalahan kita kepada Allah SWT, maka segeralah minta ampunan-Nya, pasti akan diampuni.
Kedua, Allah SWT Menegaskan Tentang Luasnya Surga; Allah SWT ingin semua manusia masuk dalam surga-Nya yang begitu luas, yakni antara langit dan bumi, tentunya manusia yang bertakwa.
Ketiga, Orang Bertakwa Gemar Berinfaq; orang yang bertakwa salah satunya adalah gemar berinfaq, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Keempat, Orang Bertakwa Selalu Sabar; orang bertakwa harus mampu menahan amarahnya alias harus sabar dalam menjalani kehidupan, sehingga hidupnya selalu dalam kasih sayang Allah SWT.
Kelima, Orang Bertakwa Selalu Pemaaf; meminta maaf itu karakter mulia, lebih mulia lagi memberi manfaat sebelum meminta maaf, sehingga kita menjadi manusia yang bersih tanpa noda dosa dan masuk dalam surga langsung tanpa singga di neraka.
4 Golongan Manusia Menurut Imam Al-Ghazali
Ustadz Alim kemudian menyampaikan poin utama kajian dari pendapatnya Imam Al-Ghazali mengenai empat golongan manusia berdasarkan tingkat kesadaran dan ilmu yang dimilikinya, yakni:
Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri; Seseorang yang Tahu, dan Dia Tahu Kalau Dirinya Tahu.
- Golongan terbaik dan manusia unggul yang memiliki kemapanan ilmu serta menyadari kapasitas dirinya. Mereka memaksimalkan ilmunya agar bermanfaat bagi diri sendiri, orang sekitar, hingga umat manusia.
- Menjadikannya sebagai teladan (‘Alim). Umat yang masih awam dianjurkan untuk mengikuti dan duduk bersama mereka sebagai pengobat sekaligus penyejuk hati. Golongan ini digambarkan sukses di dunia dan akhirat.
Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri; Seseorang yang Tahu, tapi Dia Tidak Tahu Kalau Dirinya Tahu.
- Seseorang yang sebenarnya memiliki potensi, kecakapan, dan ilmu luar biasa, namun tidak menyadari potensi yang dimilikinya sendiri.
- Imam Al-Ghazali mengibaratkan mereka seperti orang yang sedang tertidur. Tugas kita adalah membangunkannya agar potensi besar tersebut dapat segera disadari dan diberdayakan untuk kebaikan.
Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri; Seseorang yang Tidak Tahu, tapi Dia Tahu Kalau Dirinya Tidak Tahu.
- Golongan yang sadar diri akan kekurangannya. Karena tahu dirinya belum berilmu, mereka memiliki dorongan kuat untuk terus belajar.
- Tetap dinilai baik karena memiliki kerendahan hati untuk introspeksi dan menempatkan diri secara tepat. Melalui proses belajar yang tekun, mereka diharapkan kelak menjadi orang berilmu yang bermanfaat.
Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri; Seseorang yang Tidak Tahu, dan Dia Tidak Tahu Kalau Dirinya Tidak Tahu.
- Golongan yang paling buruk. Mereka adalah tipe orang yang selalu merasa paling tahu, paling mengerti, dan merasa memiliki ilmu, padahal hakikatnya tidak menguasai apa pun.
- Sangat berhati-hati, sebab tipe ini paling sulit disadarkan. Jika diingatkan, mereka cenderung membantah karena merasa lebih tahu, sehingga sulit mendatangkan kebaikan dari mereka.
“Mari kita intropeksi diri masing-masing, di kelompok manakah kita berada. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua, Aamiin.” Pesan Ustadz Drs. Alim, M.Pd., di hadapan para guru dan karyawan Spemma Pucang Surabaya, mengajak seluruh civitas akademika untuk senantiasa mengevaluasi diri demi meningkatkan kualitas diri, baik secara intelektual maupun spiritual dalam dunia pendidikan. (Humas/Gus).














