PRM Bergerak: Mengubah Nama, Mengubah Gerakan
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Setiap PCM tentu berharap seluruh PRM di wilayahnya hidup, bergerak, kreatif, dan mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan kondisi lingkungannya masing-masing. Namun realitas di lapangan tidak selalu demikian.
Tidak sedikit PRM yang memiliki semangat, tetapi bingung harus memulai dari mana. Bingung menentukan program, bingung mencari sasaran, bahkan bingung mengukur keberhasilannya. Akhirnya kegiatan berjalan apa adanya, sekadar mengulang rutinitas yang sama dari bulan ke bulan.
Di sinilah peran PCM menjadi sangat penting. PCM tidak cukup hanya memberikan arahan, tetapi juga perlu menghadirkan roadmap gerakan yang sederhana, jelas, dan mudah dijalankan oleh setiap PRM. Bahkan bila diperlukan, PCM mengalokasikan anggaran agar ranting memiliki daya untuk bergerak.
Tetapi ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Cara kita memberi nama pada sebuah anggaran ternyata ikut menentukan cara kita menggunakannya.
Selama ini kita mengenalnya sebagai: “Anggaran Kajian Rp600.000”, tanpa disadari, istilah tersebut membentuk pola pikir bahwa tugas panitia hanyalah menyelenggarakan kajian. Setelah kajian selesai, seolah tugas pun telah selesai.
Padahal dakwah Muhammadiyah tidak berhenti di mimbar. Dakwah harus hadir di tengah persoalan umat, menyentuh kehidupan, dan menghadirkan solusi.
Karena itu, saya mengusulkan agar istilah tersebut diubah menjadi: “Dana Dakwah Berdampak Rp600.000”, mungkin yang berubah hanya sebuah nama.
Namun secara psikologis, nama dapat mengubah cara berpikir. Cara berpikir akan mengubah cara bekerja. Dan cara bekerja akan melahirkan gerakan yang berbeda.
Ketika panitia menerima Dana Dakwah Berdampak, pertanyaan yang muncul bukan lagi:
“Kajian bulan ini diadakan di mana?”
Tetapi berubah menjadi: “Siapa yang harus kita bantu?”
“Masalah apa yang harus kita sentuh?”
“Kelompok masyarakat mana yang belum pernah disentuh Muhammadiyah?”
Karena itu, setiap Rp600.000 tidak cukup hanya menghasilkan satu pengajian. Ia harus melahirkan:
- 1 kegiatan yang mempertemukan Muhammadiyah dengan masyarakat.
- 1 aksi nyata yang memberi manfaat langsung.
- 1 persoalan masyarakat yang mulai disentuh dan diupayakan solusinya.
- 1 kelompok masyarakat baru yang dirangkul.
- 1 dokumentasi agar menjadi inspirasi bagi ranting lainnya.
- 1 tindak lanjut, sehingga dakwah tidak berhenti menjadi sebuah acara.
Keberhasilan PRM tidak lagi diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana. Tetapi dari banyaknya kehidupan yang berubah karena kehadiran Muhammadiyah.
Bayangkan jika lima PRM melaksanakan pola ini secara istiqamah setiap bulan. Dalam satu tahun akan lahir puluhan kegiatan, puluhan aksi sosial, puluhan kelompok masyarakat baru yang terlayani, dan puluhan kisah perubahan yang menjadi wajah dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Gerakan besar sering kali tidak dimulai dari anggaran yang besar. Gerakan besar dimulai dari cara berpikir yang benar. Maka, mungkin sudah saatnya kita mengubah istilah itu. Bukan lagi anggaran kajian, tetapi dana dakwah berdampak.
“Karena yang dibutuhkan umat hari ini bukan sekadar banyaknya acara, melainkan semakin luasnya manfaat yang dirasakan masyarakat dari hadirnya Muhammadiyah”














