Sunday, April 26, 2026
Sunday, April 26, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan : Afirmasi Outfit dalam Kehidupan

Must Read

Inspirasi Kehidupan : Afirmasi Outfit dalam Kehidupan

Oleh Ustadz Arief Rusdi, ST.

(Wakil Ketua PCM Wonokromo Bidang MPID)

Ada satu hal sederhana yang sering kita anggap biasa, namun sesungguhnya menyimpan pesan besar dalam kehidupan: cara kita berpakaian.

Pakaian bukan sekadar kain yang melekat di badan. Ia adalah bahasa pertama yang berbicara sebelum lisan mengucapkan kata. Ia adalah kesan awal sebelum seseorang mengenal isi pikiran, akhlak, dan kepribadian kita.

Maka, bagi seorang pimpinan, tokoh masyarakat, maupun penggerak persyarikatan, penampilan bukanlah perkara kecil. Ia bagian dari kehormatan, tanggung jawab, dan keteladanan.

Dalam konteks PCM Wonokromo dan Majelis Dikdasmen, pengadaan outfit atau seragam formal bukan hanya tentang keseragaman busana. Lebih dari itu, ia adalah bentuk afirmasi diri, penguatan identitas, dan simbol kesiapan untuk hadir secara bermartabat di tengah umat.

“Seorang figur publik persyarikatan perlu tampil pantas, rapi, dan berwibawa. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menunjukkan bahwa kita menghargai amanah, menghormati orang lain, dan terlebih dahulu menghargai diri sendiri”

Sebab, ketika seseorang menjaga penampilannya, sesungguhnya ia sedang mengirimkan pesan: “Saya hadir dengan kesungguhan. Saya menghormati forum ini. Saya menghargai orang-orang yang saya temui.”

Penampilan rapi membangun kredibilitas. Dari kerapian lahir kesan profesional. Dari kesan profesional tumbuh kepercayaan. Dan dari kepercayaan, lahirlah keyakinan bahwa seseorang layak didengar, layak diikuti, dan layak dijadikan teladan.

Kita sering lupa bahwa sebelum orang mendengar gagasan kita, mereka terlebih dahulu melihat kehadiran kita. Sebelum mereka membaca isi hati kita, mereka menangkap kesan dari penampilan kita. Sebelum mereka menilai kualitas ucapan, mereka melihat bagaimana kita membawa diri.

Maka, pakaian yang pantas bukanlah topeng. Ia adalah cermin. Cermin dari kedisiplinan, kesadaran, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur.

Orang Jawa memiliki peribahasa yang sangat dalam maknanya: “Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono.”

Harga diri seseorang terletak pada lisannya. Kehormatan raganya tampak dari busananya. Peribahasa ini mengajarkan bahwa manusia yang bermartabat adalah manusia yang mampu menjaga dua hal penting: ucapan dan penampilan.

Lisan yang baik melahirkan keteduhan. Busana yang pantas melahirkan penghormatan. Jika keduanya berpadu, maka lahirlah pribadi yang berwibawa, santun, dan menginspirasi.

Karena itu, outfit formal bagi pimpinan PCM Wonokromo dan Majelis Dikdasmen bukan hanya kebutuhan lahiriah. Ia adalah bagian dari pendidikan karakter. Ia mengajarkan disiplin, kebersamaan, identitas, dan tanggung jawab moral sebagai pelayan umat.

Seragam bukan untuk menyamakan pribadi, tetapi menyatukan visi. Bukan untuk membatasi gaya, tetapi menguatkan marwah. Bukan untuk terlihat mewah, tetapi untuk tampak pantas membawa amanah.

Pada akhirnya, pakaian yang baik tidak hanya membuat seseorang tampak rapi di mata manusia, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dalam menjalankan tugas.

“Ketika lahir kita tertata, batin kita pun lebih siap. Ketika penampilan kita pantas, langkah kita menjadi lebih mantap”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Kaderisasi sebagai Fungsi Utama AUM : Antara Kesadaran dan Kenyataan

Kaderisasi sebagai Fungsi Utama AUM : Antara Kesadaran dan Kenyataan Oleh Ustadz Anas Febriyanto (Mubaligh Muda Muhammadiyah Kota Surabaya, Guru SMP...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img