Monday, August 10, 2026
Monday, August 10, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan: Dari Pembangunan Nalar Menuju Kesaksian Peradaban

Must Read

Inspirasi Kehidupan: Dari Pembangunan Nalar Menuju Kesaksian Peradaban

Oleh KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.

(Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا (البقرة:١٤٣)

Ayat terbaca di atas, menegaskan bahwa umat tidak cukup hanya menjadi penerima kebenaran, tetapi dipanggil untuk menghadirkannya dalam kehidupan.

Kesaksian peradaban merupakan buah dari nalar yang terbebas dari ketergantungan intelektual. Ketika akal tidak lagi tunduk pada dominasi opini & ragam pemikiran lepas, tetapi dibimbing Wahyu & diperkaya kemampuan memahami serta berijtihad, ia memperoleh daya untuk membaca realitas, menilai perubahan, dan ikut membentuk masa depan.

Kemandirian nalar menjadikan umat bukan sekadar objek arus pemikiran, melainkan subjek yang memiliki visi, ukuran, dan tanggung jawab peradaban.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa kemajuan lahir dari pertemuan antara otentisitas Wahyu dan keluasan intelektual. Umat menyerap ilmu dan pengalaman berbagai bangsa tanpa menerimanya secara pasif. Pengetahuan itu dibaca kembali melalui pandangan dunia Islam dan tujuan kemanusiaannya, lalu diolah menjadi ilmu, pemikiran, budaya, dan tata kehidupan baru.

Keterbukaan terhadap capaian manusia, karena ashālah tersebut, tidak harus berujung pada kehilangan identitas; kematangan justru tampak pada kemampuan mengambil manfaat tanpa kehilangan arah dan jati diri.

Di tengah derasnya arus pengetahuan, media, dan budaya, nalar dituntut mampu membedakan antara pengetahuan sebagai khazanah kemanusiaan bersama dan kerangka ideologis yang membentuk nilai serta cara pandang (worldview). Wahyu hadir bukan untuk menutup dialog dengan dunia, melainkan menjadi cahaya yang menuntun proses memilih, menilai, dan memberi makna.

Ketika Wahyu dan nalar bertemu secara hidup & dinamis, pembebasan intelektual tidak berhenti pada sikap kritis. Ia menjelma menjadi daya cipta, keberanian berkarya, dan tanggung jawab menghadirkan kemaslahatan.

Kesaksian peradaban lahir ketika umat mampu menimbang gagasan dengan ukuran kebenaran, berinteraksi dengan dunia secara terbuka namun berprinsip, serta mengubah iman dan pengetahuan menjadi kontribusi nyata bagi kehidupan manusia. Wallāhu A’lam bish shawāb.

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Inspirasi Kehidupan: Bukan Sanak, Bukan Kadang, Tapi Menebar Manfaat

Inspirasi Kehidupan: Bukan Sanak, Bukan Kadang, Tapi Menebar Manfaat Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md. (Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo) Ada sesuatu...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img