Tuban, liputanmu – Ahad 13 Juli 2025, Siang itu hujan deras menyambut langkah-langkah kami ketika berkunjung ke salah satu pusat ekonomi kreatif Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Palang Kabupaten Tuban di Pabrik Air Minum Suli5. Dalam rilisnya Kamis, 17 Juni 2025.
Kunjungan ke tempat ini merupakan salah satu rangkaian studi banding PCM Wonokromo ke PCM Palang Tuban. Namun, derasnya hujan tak menyurutkan semangat kami untuk belajar dari sosok nomor satu di balik suksesnya unit usaha ini, yakni Ustadz Halim.
Ia menceritakan awal mula ketika berada di Majelis Ekonomi (PCM) Palang. Saat itu tengah merancang beberapa amal usaha strategis. Berangkat dari gagasan-gagasan “nekat tapi terukur”. Sebuah keberanian yang dibingkai dengan kalkulasi matang dan niat tulus untuk kemaslahatan umat.
Dari gagasan gagasan itu akhirnya terwujud rencana besar yang telah berjalan, diantaranya:
Pertama, Bangun Pabrik Suli5; Dengan kebutuhan dana sebesar Rp 6 miliar, satu miliar di antaranya dialokasikan sebagai saham milik Muhammadiyah. Strategi ini bukan hanya soal bisnis, tapi bentuk kontribusi berkelanjutan Muhammadiyah, agar tetap terlibat aktif meski ada pergantian kepemimpinan di Suli5.
Kedua, Properti Syariah; Investasi properti senilai Rp 6 miliar dalam bentuk saham-saham terjangkau seharga Rp 5 juta per lembar, menjadi peluang kepemilikan kolektif umat sekaligus penggerak ekonomi berbasis jamaah.
Ketiga, Usaha Umrah dan Haji; Merintis layanan ibadah umrah dan haji yang amanah dan profesional, menjadi langkah nyata menjemput berkah dari semangat spiritualitas umat.
Di sela diskusi, Ustadz Halim Direktur Suli5, menyampaikan satu pesan penting yang layak dijadikan prinsip utama dalam membangun amal usaha.
“Cari pengelola yang jujur dan karyawan yang jujur. Itu lebih penting daripada mencari yang sekadar pintar. Keahlian bisa dipelajari, tapi karakter sulit dibentuk dalam waktu singkat.” Tegasnya.
Lebih lanjut, melalui pesan itu ia ingin menegaskan bahwa fondasi keberhasilan bukan semata soal modal dan strategi, melainkan integritas.
Ustadz Halim juga berbagi pengalaman pribadi yang menggugah. Ia pernah mengalami kegagalan dan trauma dalam mengelola usaha. Namun baginya, trauma bukan akhir dari segalanya.
“Kalau gagal, ya mulai ulang saja. Terus belajar. Jangan berhenti, intanṣurullah, yansurkum; jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.”
Pungkasnya.
Sederhana, tapi sarat makna. Karena memang sejatinya, dunia usaha adalah medan juang. Butuh keberanian untuk memulai, dan kebesaran jiwa untuk bangkit kembali. (Taufiq Hidayanto).














