Surabaya, liputanmu – Sekolah Qur’anic and Internasional Insight SD Muhammadiyah 6 (SD MUSIX) Gadung Surabaya berangkatkan umrah dua guru terbaiknya, yang telah mengabdi selama dua dekade, yakni; Ustadz Moch. Askan S.Pd. dan Ustadzah Nurmala S.Ag.
“Ada momen-momen tertentu yang membuat seseorang berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu berbisik, Masyaallah, ternyata beginilah rasa bahagia yang sesungguhnya.” Ujar Ustadzah Nurmala guru SD Musix yang juga anggota Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata (MEBP) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo ini.
Tampak dari wajah mereka yang bahagia dan penuh saat berdiri di Bandara Internasional Juanda, pada Rabu (10/12/2025), sebelum melepas perjalanan yang selama ini hanya bisa mereka simpan sebagai doa: Umrah!.
Bersama pasangan masing-masing, keduanya berdiri berjejer dengan penuh haru, bunga di tangan, dan senyum yang tak bisa disembunyikan. Mereka bukan sekadar berangkat sebagai jamaah, tetapi sebagai pahlawan pendidikan yang telah mengabdi lebih dari 20 tahun di SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD MUSIX).
Hadiah yang Tak Biasa
SD Musix memilih cara paling mulia untuk memberi penghargaan: bukan piagam, bukan uang, tetapi kesempatan menyentuh Tanah Suci.
“Kalau uang bisa habis, Umrah membawa manfaat dunia dan akhirat.” Ujar Kepala SD Musix, Ustadz Munahar, S.H.I., M.Pd., saat melepas keberangkatan mereka.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa program Reward Umrah ini sudah memasuki angkatan ke 9, sebuah bukti komitmen sekolah dalam memuliakan perjuangan para guru dan karyawannya.
“Harapannya setiap guru, suatu hari nanti, bisa merasakan kesempatan yang sama.” Tegas Ustadz Munahar yang juga menjabat sebagai Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur ini.
Doa-doa yang Dititipkan
Ustadz Munahar kemudian menitipkan tiga doa, yakni ; Pertama, Agar SD Musix makin maju, berkah, dan siswanya terus bertambah.
“Agar guru dan karyawan selalu sehat, sejahtera, dan dimudahkan beribadah. Dan yang terakhir, pembangunan Gedung Gen-Q Center enam lantai segera tuntas.” Katanya penuh semangat.
Sementara itu, sebelum berangkat, Ustadz Askan, panggilan akrabnya, mengirim pesan terakhir ke grup WhatsApp Sekolah, pesan yang membuat banyak guru terdiam.
“Kami mohon maaf atas segala kekurangan dan mohon doanya agar ibadah ini berjalan lancar dan diterima Allah SWT.” Ujarnya.
Langkah yang Penuh Syukur
Dengan batik seragam bernuansa coklat, mereka bergabung bersama 27 jamaah KBIHU PDM Surabaya. Tepat pukul 12.00 WIB, pesawat yang mereka tumpangi mengudara, membawa harapan, syukur, dan doa yang selama ini mereka pupuk dalam diam.
Perjalanan ini bukan hanya milik Askan dan Nurmala. Ini adalah cerita tentang bagaimana pengabdian selama puluhan tahun akhirnya menemukan jalannya menuju Tanah Suci.
Sebuah pesan lembut untuk kita semua. Ketika seseorang ikhlas memberi, Allah pula yang akan membalas dengan cara paling indah. (Taufik).














