Sunday, March 15, 2026
Sunday, March 15, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Nikmati Secangkir Kopi di Makassar: Napak Tilas Cinta 1990, dari Masjid hingga Gurihnya Jalangkote

Must Read

Makassar, liputanmu – Ada cara unik untuk memanfaatkan waktu secangkir kopi. Bukan untuk benar-benar menyeruput kopi, melainkan untuk berkeliling mengenang masa lalu di kota di mana cinta itu pertama kali dipertemukan.

Itulah yang dilakukan oleh Ustadz Lukman, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo dan Istrinya Ustadzah Enti, pasangan suami istri yang tengah mengunjungi Makassar hari ini. Kamis (19/02/2026).

Di sela waktu yang sempit hanya seukuran menikmati secangkir kopi hangat mereka memilih untuk bernostalgia di kota yang pada tahun 1990 menjadi saksi bisu pertemuan pertama mereka. Dengan langkah penuh kenangan, pasangan ini menyusuri beberapa ikon baru dan lama Kota Daeng.

Perjalanan kilat mereka dimulai dengan mengunjungi dua landmark religi kebanggaan warga Makassar, yakni;

Pertama, Masjid 99 Kubah yang megah dengan filosofi Asmaul Husna-nya. Arsitekturnya yang futuristik menjadi latar modern dari cerita cinta klasik mereka.

Kedua, Tak jauh dari sana, mereka melanjutkan perjalanan ke Masjid Terapung Amirul Mukminin yang berlokasi di Pantai Losari.

Hembusan angin laut dan debur ombak tipis seolah membisikkan memori masa muda ketika mereka pertama kali berkenalan di kota ini.

“Dulu tahun 1990, suasana Losari masih sangat berbeda. Tapi melihat Masjid Terapung ini, kami merasa ada energi baru yang menyegarkan di kota tempat kami dipertemukan.” Ujar Ustadz Ir Lukman, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, sambil menatap istrinya.

Setelah berwisata religi, lanjut Ustadz Lukman, momen secangkir kopi yang terbatas itu diisi dengan kegiatan yang lebih personal: mengunjungi sanak saudara. Kebersamaan hangat di ruang keluarga menjadi pengisi waktu yang paling berharga, melepas rindu dengan cerita-cerita yang tak lekang oleh waktu.

Namun, perjalanan ke Makassar tak akan lengkap rasanya tanpa membawa pulang rasa khasnya. Di penghujung waktu, sebelum matahari semakin tinggi, mereka mampir ke penjaja kuliner legendaris untuk membeli jalangkote.

“Camilan khas Makassar berbentuk pastel isi sayuran dan daging itu sengaja dibeli sebagai buah tangan. Lebih dari sekadar makanan, aroma dan rasa gurih jalangkote seolah menjadi simbol manisnya perjalanan cinta mereka yang dimulai dari kota ini, 34 tahun silam.” Ungkapnya.

Dalam waktu singkat, hanya sekitar secangkir kopi, pasangan ini berhasil merangkum esensi perjalanan mereka: merefleksikan masa lalu di tengah kemegahan masa kini, mempererat tali keluarga, dan membawa pulang sedikit kehangatan Makassar dalam bungkusan jalangkote.

“Kami tidak minum kopi kali ini, tapi perjalanan singkat ini terasa lebih membangkitkan semangat daripada kopi mana pun.” Tandas Ustadzah Enti, Istri Ustadz Ir Lukman sambil tersenyum. (Lukman).

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Ketua PCM Wonokromo : Selamat Milad Ke-48, Momentum untuk Bergerak Lebih Cepat 

Surabaya, liputanmu – Momentum Semarak Ramadan 1447 H sekaligus Milad ke-48 (09 Maret 1978-09 Maret 2026), Sekolah Karakter SD...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img