1 Muharram 1448 H: Menyongsong Persatuan Melalui Kalender Islam yang Membumi
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Sekretaris PCM Wonokromo, Sekretaris Majelis Pendayagunaan Wakaf PDM Kota Surabaya, Wakil Sekretaris Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah PWM Jawa Timur)
Tahun baru Hijriyah adalah penanda perjalanan waktu yang berakar pada peristiwa monumental dalam sejarah peradaban Islam. Hijrah adalah sebuah langkah strategis Rasulullah SAW yang mengubah arah sejarah dari ketertindasan menuju kedaulatan, dari perpecahan menuju persaudaraan.
Memasuki tahun 1448 Hijriyah, kita dihadapkan pada sebuah refleksi mendalam: sudah sejauh mana kalender Hijriyah mampu menjadi “tali pengikat” spiritual sekaligus administratif bagi umat Islam di seluruh dunia?
Tantangan Disparitas: Mengapa Persatuan Masih Menjadi PR?
Selama berabad-abad, umat Islam di berbagai belahan dunia sering kali terfragmentasi dalam penentuan waktu ibadah, khususnya penentuan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah.
Perbedaan metode perhitungan (hisab) dan pengamatan (rukyat) sering kali memicu keragaman waktu hari raya, yang secara simbolis sebenarnya mencerminkan kerinduan akan persatuan yang belum sepenuhnya terwujud.
Membumikan kalender Islam bukan berarti menyeragamkan teknis astronomis semata, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa kalender adalah simbol kedaulatan waktu umat Islam.
“Kalender Hijriyah adalah identitas yang seharusnya tidak hanya hidup di masjid-masjid, tetapi juga di ruang-ruang publik, sistem ekonomi, dan ritme kehidupan sehari-hari umat Islam global”
Strategi Membumikan Kalender Islam
Untuk menjadikan kalender Hijriyah sebagai instrumen pemersatu, ada beberapa langkah strategis yang perlu kita dorong bersama, yakni:
Pertama, Harmonisasi Saintifik dan Syar’i: Mendorong dialog yang lebih inklusif antara ahli astronomi (falak) dan para ulama fiqh untuk menyepakati standar global.
“Ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi jembatan, bukan justru menjadi alat untuk memperlebar jurang perbedaan”
Kedua, Digitalisasi dan Literasi Kalender: Mengintegrasikan penanggalan Hijriyah ke dalam teknologi digital yang kita gunakan sehari-hari. Ketika umat Islam terbiasa melihat tanggal Hijriyah di ponsel pintar mereka selazim melihat tanggal Masehi, maka kesadaran akan waktu Islam akan tumbuh secara organik.
Ketiga, Pengarusutamaan dalam Ruang Publik: Mendorong instansi, organisasi, hingga pemerintah negara-negara Muslim untuk menyelaraskan agenda-agenda besar umat dengan kalender Hijriyah.
“Ini adalah langkah politis sekaligus kultural untuk menegaskan kemandirian peradaban”
Keempat, Pendidikan Berbasis Sejarah: Mengajarkan makna Hijrah bukan hanya sebagai perpindahan geografis, melainkan sebagai transformasi visi. Dengan memahami makna filosofis di balik kalender ini, umat akan lebih menghargai pentingnya kesatuan waktu sebagai cermin dari kesatuan jiwa.
Tahun 1448 Hijriyah: Waktu untuk Bersatu
Hijrah adalah tentang meninggalkan kebiasaan yang memecah belah dan menuju tatanan yang lebih baik. Tahun 1448 H harus menjadi momentum bagi kita untuk berhenti menjadikan perbedaan teknis sebagai tembok pemisah.
Sebuah kalender yang bersatu adalah prasyarat bagi umat yang ingin bergerak bersama. Jika kita mampu menyamakan derap langkah dalam waktu, insyaAllah kita akan lebih mudah menyamakan langkah dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.
Di awal tahun ini, mari kita jadikan kalender Hijriyah sebagai panduan yang membumi, sebuah kompas yang tidak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga mengarahkan hati kita pada satu titik kiblat yang sama: persatuan di bawah naungan rahmat Allah SWT.
“Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448. Semoga momentum ini menjadi saksi bangkitnya kesadaran umat untuk bersatu dalam waktu, ruang, dan semangat yang satu; Kalender Hijriyah Global Tunggal”














