Surabaya, liputanmu – Suasana Masjid Syuhada Gadung Surabaya terasa begitu teduh. Seperti biasa setiap minggu kedua setiap bulan Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo mengadakan Kajian Ahad Pagi untuk menambah ilmu dan keimanan bagi warga sekitar. Ahad (21/06/2026).
Jamaah yang hadir duduk bersila mendengarkan kajian tahsin shalat yang disampaikan oleh Prof. Dr. Zaenudin MZ., LC., MA, Ahli Ilmu Hadits, yang juga Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, bukan sekadar membahas gerakan dan bacaan shalat, namun juga bagaimana seorang muslim menjalani agama dengan ilmu, hikmah, dan keseimbangan.
Dalam tausiyahnya, Prof. Zaenudin menyampaikan bahwa dalam kehidupan ini, Rasulullah ï·º mengajarkan amalan yang sedikit tetapi dilakukan secara istiqamah lebih dicintai Allah SWT daripada amalan besar yang hanya sesekali dilakukan.
“Karena itu, ukuran keberhasilan seorang muslim bukanlah seberapa banyak yang dilakukan dalam sehari, melainkan seberapa konsisten ia berjalan di atas ketaatan.” Ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar umat Islam tidak mudah berasumsi dalam perkara agama. Agama bukan dibangun di atas dugaan, logika bebas, atau filsafat yang tidak memiliki landasan. Islam memiliki Al-Qur’an dan Sunnah sebagai petunjuk yang jelas.
“Ketika menghadapi persoalan, jangan hanya mencari pembenaran, tetapi carilah solusi yang sesuai dengan tuntunan syariat.” Tegasnya.
Di zaman sekarang, lanjut Prof. Zaenudin, banyak persoalan hukum yang muncul. Seorang ahli hukum mungkin memahami peraturan manusia, tetapi seorang muslim juga perlu memperhatikan fiqih agar keputusan yang diambil tidak hanya sah secara hukum, namun juga benar di hadapan Allah.
“Pesan yang sangat penting adalah jangan mudah terpecah belah karena urusan agama.” Tegasnya.
Prof. Zaenudin juga menegaskan bahwa perbedaan kecil jangan sampai merusak persaudaraan. Bahkan para ulama mengajarkan, lebih baik meninggalkan amalan sunnah ketika dikhawatirkan menyebabkan terabaikannya kewajiban atau menimbulkan perpecahan yang lebih besar.
Dan satu lagi pelajaran berharga, katanya, jangan mengkultuskan seseorang. Tidak ada manusia yang ma’shum selain para nabi. Hormatilah para guru, ulama, dan tokoh agama, tetapi tetaplah menimbang setiap perkataan dengan Al-Qur’an dan Hadis.
“Ambillah yang benar, tinggalkan yang keliru, dan jangan menjadikan manusia sebagai ukuran kebenaran.” Tandasnya.
Semoga kita menjadi hamba yang istiqamah, rendah hati dalam mencari ilmu, bijak dalam menyikapi perbedaan, serta selalu menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai cahaya yang menerangi setiap langkah kehidupan. Karena ketika ilmu dibangun di atas keikhlasan dan adab, hati akan tenang, persaudaraan akan kuat, dan jalan menuju ridha Allah akan semakin dekat.
“Ya Allah, tunjukilah kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya, serta tunjukilah kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya, Aamiin.” Pungkasnya. (Taufikhi).














