Wednesday, July 1, 2026
Wednesday, July 1, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan: Sapardi, Religiusitas, dan Hati yang Sering Terlupakan

Must Read

Inspirasi Kehidupan: Sapardi, Religiusitas, dan Hati yang Sering Terlupakan

Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.

(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”

Mengapa satu kalimat sederhana ini masih hidup di hati banyak orang?

Padahal Sapardi tidak mengajak orang berdebat soal agama. Ia tidak berbicara tentang siapa yang paling benar. Namun, puisinya membuat banyak orang berhenti sejenak, berpikir, lalu menata kembali hatinya.

Mungkin karena religiusitas bukan hanya tentang seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan, tetapi juga seberapa baik kita menjalankan nilai-nilai yang Dia ajarkan.

“Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni”

Hujan tidak memilih siapa yang akan dibasahi. Ia turun membawa manfaat tanpa mencari pujian. Bukankah itu mengingatkan kita pada keikhlasan? Dalam Islam pun, amal terbaik adalah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia.

Hari ini kita hidup di zaman yang bising. Media sosial dipenuhi komentar, perdebatan, bahkan kebencian. Semua ingin didengar, tetapi sedikit yang mau mendengar. Semua ingin menang, tetapi lupa menjaga hati.

Sapardi seolah mengajak kita untuk kembali belajar diam, melihat, dan merasakan.

“Yang fana adalah waktu. Kita abadi”

Bukan berarti manusia hidup selamanya. Justru kalimat ini mengingatkan bahwa waktu kita sangat terbatas. Yang akan tinggal adalah amal, ilmu yang bermanfaat, dan jejak kebaikan yang kita tinggalkan.

Menjadi religius bukan sekadar rajin beribadah, tetapi juga jujur saat tidak diawasi, lembut kepada keluarga, adil kepada orang lain, peduli kepada yang lemah, dan menjaga alam sebagai amanah dari Allah.

Karena itu, jangan sampai ibadah kita semakin banyak, tetapi hati semakin keras. Jangan sampai lisan fasih mengutip dalil, tetapi mudah menyakiti sesama. Jangan sampai masjid semakin ramai, tetapi kepedulian kepada tetangga justru semakin sepi.

Pada akhirnya, jalan menuju Allah bukan hanya dibangun dengan suara yang paling lantang, tetapi juga dengan hati yang paling lembut, akhlak yang paling baik, dan manfaat yang paling besar bagi makhluk-Nya.

“Sebab orang yang paling dekat dengan Allah bukanlah yang paling pandai berbicara tentang agama, melainkan yang paling tulus mengamalkan ajaran-Nya dalam setiap sikap dan perbuatannya”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Pra-Raker SMP Muhammadiyah 1 Surabaya: Merumuskan Program Strategis untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan

Surabaya, liputanmu - Terus berbenah dan berkemajuan, SMP Muhammadiyah 1 Surabaya melaksanakan kegiatan Pra-Rapat Kerja (Pra-Raker) pada 1–2 Juli...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img