Ngaji Isuk Edisi 17 : Saksi yang Tak Berdusta
Oleh Ustadz Muhammad Barid Sadan, S.Ag., M.Pd.I.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Bismillah, Alhamdulillah, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad
Sahabat ngaji isuk Rahimakumullah, Allah subhanahu wata’ala berfirman :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا
Artinya :“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36).
Manusia sering merasa bahwa perbuatannya dapat disembunyikan dari orang lain. Namun, Islam mengajarkan bahwa ada tiga saksi yang selalu menyertai kehidupan manusia: pendengaran, penglihatan, dan hati.
Ketiganya tidak pernah lalai, tidak pernah lupa, dan tidak pernah dusta. kelak dihadapan Allah subhanahu wata’ala, semua akan memberikan kesaksian tentang bagaimana manusia menggunakan nikmat Allah.
Pertama, Pendengaran: Apa yang Didengar Akan Dipertanyakan. Telinga adalah pintu masuk informasi kedalam jiwa. Allah subhanahu wata’ala akan menanyakan: Apa yang kita dengar?
Di era media sosial, banyak orang menyebarkan berita tanpa tabayyun. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Artinya :“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim).
Kedua, Penglihatan: Mata Akan Bersaksi. Mata merupakan nikmat besar yang sering disalahgunakan. Pandangan yang tidak dijaga dapat menjerumuskan hati kepada dosa.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ٣٠
Artinya :”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30).
Setiap gambar yang dilihat, setiap tontonan yang dinikmati, bahkan setiap pandangan yang sengaja diarahkan kepada kemaksiatan akan menjadi catatan amal yang kelak dipertanggungjawabkan.
Ketiga, Hati: Pusat Keimanan dan Niat. Hati adalah raja bagi seluruh anggota badan. Bila hati baik, baiklah seluruh amal. Bila hati rusak, rusaklah seluruh perilaku.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً… أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya :“Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati menyimpan niat, keyakinan, prasangka dan keikhlasan. Oleh karena itu Allah SWT berfirman menyebutkan hati bersama pendengaran dan penglihatan sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Ketiga saksi itu akan berbicara di hari kiamat. Pada hari ketika manusia mencari pembela, justru anggota tubuhnya sendiri menjadi saksi.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Fussilat: 20).
Tidak ada rekayasa, tidak ada manipulasi, tidak ada kebohongan. Saksi-saksi itu berasal dari diri kita sendiri.
“Ya Allah, jadikanlah pendengaran, penglihatan, dan hati kami senantiasa taat kepada-Mu, serta penuhilah semuanya dengan iman dan takwa.” Aamiin.
نَصْرٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ














