Thursday, April 23, 2026
Thursday, April 23, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Nuzulul Qur’an : Malam yang Mengubah Arah Hidup

Must Read

Surabaya, liputanmu – Masjid terasa lebih hening dari biasanya. Lampu-lampu lembut menerangi ruang utama Masjid Syuhada Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung Wonokromo, Surabaya. Malam ini, Kamis (05/03/2026) jamaah berkumpul dalam Kajian Nuzulul Qur’an.

Hadir sebagai pemateri utama, Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I., Wakil Sekretaris Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang juga Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo.

Suasana khusyuk, seolah malam itu bukan sekadar pengajian, tetapi pengingat bahwa kita hidup di bawah cahaya wahyu.

Nikmat Islam yang Sering Terlupa

Ustadz Salman membuka kajian dengan kalimat yang menenangkan namun menghentak hati.

“Niatkan hadir di majelis ini hanya karena Allah. Jangan karena tradisi Ramadhan. Jangan karena ikut-ikutan.” Ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa nikmat terbesar seorang manusia bukanlah harta, jabatan, atau umur panjang, melainkan nikmat Iman dan Islam. Ramadhan menjadi momentum untuk kembali mengingat nikmat Allah SWT.

“Nikmat terbesar kita adalah Iman dan Islam. Dan nikmat itu tidak cukup hanya diucapkan, harus disyukuri dengan ketaatan.” Tegas Ustadz Salman yang juga Sekretaris Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya ini.

Meneladani Rasul Agar Mendapat Syafaat

Dalam kajian tersebut, Ustadz Salman juga mengingatkan pentingnya meneladani Muhammad SAW.

“Kalau kita ingin mendapatkan syafaat Rasulullah SAW, maka hidup kita harus mengikuti beliau. Jangan hanya mengaku cinta.” Ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa cinta kepada Rasul bukan slogan, tetapi jalan hidup.

“Meneladani Rasul itu bukan sekadar sejarah, itu adalah cara hidup.” Tegasnya.

Memahami Makna Nuzulul Qur’an

Ketika masuk pada inti kajian, Ustadz Salman menjelaskan bahwa para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang proses turunnya Al-Qur’an. Namun yang jauh lebih penting bukan perbedaan teknis tersebut, melainkan hikmah di balik turunnya wahyu.

Ustadz Salman merangkum empat hikmah besar Nuzulul Qur’an, yakni:

Pertama, Meneguhkan Hati Nabi; Wahyu datang sebagai penguat ketika tekanan, hinaan, dan ujian menimpa Nabi

“Al-Qur’an turun untuk meneguhkan hati Rasulullah. Karena perjuangan dakwah itu berat.” Katanya.

Kedua, Memudahkan Hafalan; Metode ini menjadikan umat Islam memiliki tradisi hafalan yang luar biasa hingga hari ini.

“Al-Qur’an tidak turun sekaligus. Ia turun sedikit demi sedikit agar mudah dihafal dan dipahami.” Tandasnya.

Ketiga, Menjawab Persoalan Umat; Artinya, Al-Qur’an bukan sekadar kitab ibadah, tetapi panduan hidup.

“Setiap kali ada masalah, wahyu turun sebagai jawaban.” Jelasnya.

Keempat, Gradualisasi Hukum ; Syariat tidak turun sekaligus. Allah mendidik manusia secara bertahap.

“Inilah bukti bahwa Islam memahami proses perubahan manusia.” Imbuhnya.

Esensi Puasa Ramadhan

Ustadz Salman kemudian mengajak jamaah kembali kepada inti Ramadhan.

“Puasa itu bukan sekadar menahan lapar. Puasa adalah latihan membangun hubungan dengan Allah dan dengan manusia.” Tegasnya

Dalam Islam ada dua dimensi utama:

Pertama, Hablum Minallah (hubungan dengan Allah).

Kedua, Hablum Minannas (hubungan dengan manusia).

“Ramadhan gagal kalau kita rajin ibadah tapi masih menyakiti orang lain.” Tandasnya.

Menjadi Orang Istimewa di Akhir Ramadhan

Ustadz Salman mengingatkan bahwa manusia zaman Nabi Muhammad SAW memiliki umur yang pendek. Namun Allah SWT memberikan hadiah luar biasa: malam yang lebih baik dari seribu bulan.

“Umur kita mungkin pendek. Tapi Allah memberi kesempatan mengejar pahala ribuan bulan lewat Lailatul Qadar.” Ujarnya.

Maka target seorang mukmin di akhir Ramadhan bukan sekadar bertahan, tetapi menjadi pribadi yang istimewa di hadapan Allah.

Pesan Terpenting dari Nuzulul Qur’an

Di akhir kajian, Ustadz Salman menyampaikan pesan yang sangat kuat.

“Peringatan Nuzulul Qur’an jangan berhenti pada seremoni. Yang Allah inginkan bukan hanya kita membaca Al-Qur’an, tapi mengamalkannya.” Tandasnya.

Karena pada akhirnya, kemuliaan umat ini bukan karena jumlahnya. Tapi karena kedekatannya dengan Al-Qur’an. Malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar mengenang turunnya wahyu. Ia adalah panggilan untuk kembali kepada Al-Qur’an; membacanya, memahaminya, dan menjadikannya jalan hidup.

“Al-Qur’an tidak turun hanya untuk dibaca di bulan Ramadhan. Ia turun untuk menuntun hidup manusia sampai hari kiamat.” Pungkas Ustadz Salman yang juga menjabat Bendahara Kwartir Wilayah (Kwarwil) Hizbul Wathan Jawa Timur. (Taufikhi).

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Kartini Menginspirasi, Panggung Pelajar Spemsa Menyalakan Semangat Perubahan

Surabaya, liputanmu - Aula SMP Muhammadiyah 1 (Spemsa) Surabaya pagi itu tak sekadar menjadi ruang berkumpul, tetapi berubah menjadi...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img